Quarted : Secret Admirer Part 2




Kanu Dewista
Hampir saja aku berteriak, seseorang tiba tiba saja menepuk bahuku keras sekali.
"Pra..."
Spontan tak kuselesaikan kalimatku saat mendapati bukan Prana yang ada di hadapanku melainkan, cowok tinggi menyebalkan memamerkan senyumnya, tanpa meminta ijin tangan kokohnya melepaskan headphone dari telingaku, mengambil alih lalu mengenakannya. Kemudia berdecak, Tatapannya membuatku sejenak terpaksa mengembangkan senyum.

"Pantes bolot, keceng bener volumenya"
Dengan percaya diri tangannya menepuk nepuk dan mengacak acak kepalaku.
"Dasar cewek gorilla"
Gumamnya masih memperlakukanku seperti anak kecil, pipiku tiba tiba terasa hangat, ah tidak sepertinya panas.
"Aww..."
Kutinggalkan satu tendangan cukup keras tepat di kakinya, sebelum aku beranjak pergi menghindar, aku merasakan hal yang aneh, Perlakuan Karang membuatku sebal, aku bukan bocah lagi, aku ini gadis yah memang tampak dari luar aku tak memiliki sifat gadis sama sekali, apa lagi tadi dia menyebutku denagn julukkan menyebalkan itu. Ini bukan berarti aku membenci Karang, hanya saja aku tak ingin memperlihatkan muka ku yang tiba tiba blushing mendapat perlakuan seperti itu, sangat sangat menyebalkan, tapi ada yang aneh, ketika aku berada di dekat nya, rasanya nyaman sekali, aku merasa terlindungi, aroma tubuhnya yang begitu khas dan hangat itu membuatku tak tahan, aku tak kuasa jika harus berlama lama di posisi seperti itu. Rasa nya ingin berteriak, menyebalkan sekali, dasar tidak ada sopan sopannya sama sekali.
"Eh Cewek gorilla mau kemana?"
Aku tak perduli lagi, lagi pula ini sangat memalukan, memperlakukanku seperti itu di tempat umum seperti ini, iya aku masih di sini di toko buku, berdiri di hadapan novel novel romantis, tak habis pikir bagaimana makhluk satu itu bisa sampai disini, apa lagi dia orang yang tidak terlalu suka membaca buku. Hah? jangan jangan dia menguntitku?
"Cih"
Sebal rasanya mengulang kalimat yang sama yang seperti menusuk diriku senndiri. Sedetik kemudian entah kenapa kakiku seakan bergerak sendiri, menghampiri cowok menyebalkan itu.

"Gue bukan bocah, dan gue bukan gorilla"
Ujarku setengah berbisik sembari menarik telinganya keras sekali, aku tak peduli seberapa kuat dia menahan dan mengaduh, hukuman ini rasanya masih terlalu ringan. Kukenakan lagi headphone dan lagu lagu itu kembali membawaku pada rasa nyaman, tak aku perdulikan lagi Karang. Kutepuk tepuk mukaku, aku merasa sangat bodoh ketika berhadapan dengan Karang. Ah Sial, kesenanganku kali ini sedikit terganggu. Sejenak aku kembali menikmati beberapa buku buku disini, entah aku tak membaca tapi memandangi sampul warna warninya membuatku senang, seperti yang di lakukan Prana, ya sepertinya aku terinfeksi virus itu dari Prana. Senyumku mengembang tipis memikirkan hal itu.
Tiba tiba ada yg berbuat ulah, kembali menggangu kesenanganku, kali ini lebih berani, tanpa permisi ia menggandeng tanganku, ah tidak lebih tepatnya menarik paksa, membuat langkahku setengah terseret. Aku geram, ternyata belum kapok juga dia aku siksa tadi. Haduh Karang, mau kamu apa sih, apa kamu tidak mengerti, saat ini aku hanya ingin sendiri.
"Karang apa apaan sih lo?"
Genggaman tangannnya cukup kuat sehingga mengibakannya aja tak cukup untukku melepaskan diri dari nya. Tiba tiba, langkahnya terhenti, Karang berbalik badan, tepat dihadapanku, badannya yang cukup tinggi sedikit merunduk, muka menyebalkannya ia pasang tepat di depan mukaku yang masih cengoh, lagi lagi ia melepaskan headphone yang menempel di telingaku. Tangannya yang kokoh ia letakkan di kedua pundakku.
"Nona tomboy yang baik, bisa kan bersikap sedikit lebih manis"
Dasar harusnya kamu Karang, bisa tidak untuk bersikap lebih sopan, ya Tuhan ujian macam apa lagi ini, tatapan karang membuatku benar benar meleleh, entah sudah berapa pasang mata yang memperhatikan kami dengan posisi seperti itu. Ya Tuhan, kenapa harus ada makhluk semenyebalkan ini di kehidupanku, rasanya ingin sekali lagi menendang kakinya, tapi entah kakiku terasa lemas, aku pasrah, oh tidak apa ini kekuatan tersembunyi dari Karang, aku seperti terhipnotis, mata sipitnya yang tegas benar benar membuatku lumer, apa lagi senyumnya itu. Ah tidak tidak apa yang barusan aku kupikirkan.
"Ayolah, gue butuh bantuan lo kali ini"
Aku dapat merasakan nafasnya yang hangat berhembus bersama kalimatnya barusan. Aku tak menjawab, hanya kuturunkan pundakku pasrah, menyerah pada Karang, meski aku sedikit khawatir pada para fans nya yang gila, gadis gadis aneh yang selalu berteriak teriak memanggil manggil karang ketika di kampus.
"Oke baiklah gue anggap itu jawaban iya dari lo, lagi pula lo ga sibukkan?"
Masih seperti biasa, seenak nya saja membuat keputusan, dasar Karang pemaksa, rasa nya tak ada habis habisnya.
"Oh ya, udah dapt buku yang lo cari kan?, kalo begitu kita ke kasir, trus makan, nanti aku kasih tahu saat makan"
Aku masih terdiam, menanggapi sikap karang yang terkadang suka memaksakan kehendaknya terhadapku.
"Atau jangan jangan lo ga berniat beli buku dan cuman mau baca buku gratis di sini"
Tudingnya tiba tiba menuduhku seolah aku adalah seorang pemburu gratisan, datang ke toko buku seperti datang ke perpustakaan, geram rasanya mendengar kalimat itu, yah meskipun sesekali aku memang melakukan itu. Tak tahan lagi kali ini tendangaku benar benar mengenai kakinya. Jalannya jadi sedikit terseok, puas rasanya melihat Karang tersiksa seperti itu.
"Dasar bener bener cewe gorilla, kalo begini terus kapan dapet pacar"
Ah makin menyebalkan saja, cowok satu ini, dengan entengnya kalimat itu keluar dari mulutnya, tanpa merasa bersalah. Ulahnya semakin tak terkendali, kini tangannya melingkar begitu saja merangkul pundakku, berjalan seolah tengah membimbing nini menyebrang jalan.
"Hati hati tersandung ya nek"
Ujarnya terkekeh, benar benar cowo yang tak ada sopan sopannya memperlakukan gadis seperti itu, kali ini telapak ku hentakan kakiku di tepat mengenai punggung kakinya, aku melihatnya merintih, menerima itu.
"Benar benar cewe gorilla".
lagi lagi dia memanggilku gorilla, apa ku tampak se mengerikan itu atau malah sangat melas, mengingat populasi gorila yang teracam punah. aku tak tahan lagi.
"Gue bantu lo tapi dengan syarat"
Karang tampak antusias, dahinya berkerut kerut, mata sipitnya hanya tertinggal seperti garis tipis.
"Satu. Stop manggil gue gorilla"
"Dua. Jangan terlalu deket, badan lo bau"
Karang tampak kebingungan, hidungnya berubah seperti moncong tapir, mendengus dengus, menciumi setiap jengkal, tubuhnya, aku menahan tawa melihat tingkahnya yang seperti ini, rasain, emang enak dikerjain. Kutinggalkan Karang yang masih mengendus endus badannya sendiri. Tampaknya Karang benar benar percaya dengan kebohonganku, aku masih menahan tawa melihatnya dari depan pintu kaca toko buku. Karang terlihat lucu juga jika begitu, ia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Woy.. jadi mau di bantu nggak nih?"
Ujarku mengingatkannya, aku tak tahan lagi akhirnya tawaku buncah, Karang tampak mendengus sebal merasa di kerjai.
"Eh Gorilla, kampret lu bohong kan soal bau badan gue"
Aku masih terkekeh, rasanya perutku terasa sakit, ketepuk tepukkan telapak tangan ku berkali kali di keningku.
"Et masih manggil gue gorilla, gue nggak mau bantu"
Karang, tampak pasrah.
"Anggep aja yang tadi impas karena lo udah bohongin gue"
Ujarnya enteng, lalu kembali merangkulku, sebenarnya aku tak masalah dengan rangkulan Karang, malah aku merasa sangat nyaman, yah hanya Karang yang berani meperlakukanku seperti itu. yah hanya Karang, aku berharap Prana juga seperti itu, em, maksudku tidak canggung seperti Karang, karena aku juga wanita yang ingin merasakan perhatian lembut.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.