Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.
![]() |
| Sumber Foto : https://www.pexels.com/photo/man-in-black-long-sleeved-shirt-and-woman-in-black-dress-888899/ |
Di usia yang hampir menginjak kepala tiga ini, banyak sekali todongan pertanyaan tentang diriku yang tak menikah, terlebih di kalangan kerja yang hampir semuanya sudah berkeluarga. Sebenarnya tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu; nyatanya diri ini masih nyaman dengan kesendirian. Sering kali kala pertanyaan itu disodorkan, kubalas dengan candaan tentang ekspresi seksualku yang terdengar cair. Senang rasanya melihat mereka heboh dengan respons konyol. Aku memang tidak terlalu memusingkan soal seksualitas. Bagiku, soal mencinta tak perlu membatasi gender. Tapi jika menyangkut pernikahan, aku setuju pernikahan adalah penyatuan dua gender, laki-laki dan perempuan, sebagaimana alam seimbang dengan keberadaan keduanya.
Aku adalah pria yang immature, pertumbuhan sosialku terlambat, tidak seperti pria-pria lain yang sudah memulai kehidupan mandirinya di awal usia 20-an. Aku tidak. Sebenarnya bekal yang diberikan orang tuaku tidaklah sedikit; enam tahun lamanya mengenyam pendidikan pesantren seharusnya menjadikanku pria yang matang
Berawal dari kebebalan, lari dari tugas mengajar yang seharusnya diselesaikan sebagai syarat pengambilan ijazah. Dari sinilah penyesalan itu dimulai, babak baru kehidupan lebih gamang. Seorang remaja yang tidak memegang kertas resmi bertanda tangan sebagai syarat mencari pekerjaan; aku tahu ini terdengar
Aku tidak akan mengelak dan tersinggung jika aku disebut sebagai pemalas. Tidak perlu mencari alasan dan menyalahkan orang lain, semua ini terjadi karena memang aku adalah pemalas. Pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa, dan menikah adalah hal kesekian yang melintas dalam pikiranku.
Bagiku menikah adalah pilihan, bukan kewajiban. Inilah yang menjadikanku mengesampingkan pernikahan dan tidak pernah sekalipun menjadikannya tujuan hidup. Ada banyak hal yang perlu distabilkan. Saat ini aku masih kerepotan untuk mencari napas, aku tidak ingin menambah daftar kerepotan lain. Mungkin ada saja yang akan menyanggah dengan mengatakan, "Bukankah akan lebih mudah jika menjalani kerepotan itu bersama?" Aku menghargai pemikiran itu. Ya, mungkin saja orang lain mampu menjalani
Fase kehidupan mandiriku baru saja dimulai, terlambat memang dan masih menyisakan celah-celah yang perlu ditambal. Tertidur dalam kepompong lebih dari enam belas tahun, tentunya butuh waktu untuk beradaptasi. Tidak mungkin aku langsung berlari; menyeimbangkan tapak kaki agar lebih kuat menc
Maka saat ini, keputusan untuk tidak memasukkan pernikahan dalam daftar yang harus aku selesaikan adalah pilihan paling tepat. Aku percaya sebagaimana ibuku percaya ketika saudara-saudara berkunjung ke rumah dan menanyakan kenapa aku tidak segera menikah. Dengan sederhana ibu memberi jawaban, "Ya belum waktunya, nanti kalau sudah waktunya ya nikah." Mungkin, Bu. Aku sendiri tidak tahu kapan waktunya itu tiba, yang pasti tidak dalam waktu dekat.
Ibu adalah tambahan alasan untukku tidak menjadika
Aku adalah pria yang percaya bahwa menikah akan menjadi lebih nyaman jika segalanya sudah disiapkan secara matang, tidak perlu sempurna. Keseimbangan adalah satu hal pent
Me
Aku sedang menyiapkan diri untuk menjalani kehidupan. Dengan atau tidak menapaki fase pernikahan bukan menjadi masalah yang harus aku pusingkan. Aku ingin menjadi pribadi utuh, bertanggung jawab atas setiap tindakan yang aku

Comments
Post a Comment