For Her : Pria Eskrim
Angin berhembus, mengibas rambut seorang gadis remaja, wajahnya manis, begitu lembut dan teduh, meski raut mukanya tak terlihat utuh karena tertunduk, sementara kakinya sibuk di adukan dengan tanah kering, membuat debunya berterbangan, seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Bosan. Mulutnya bergerak gerak menggerutu. Entah pada siapa?, tapi raut itu tampak begitu sebal, kesal. Sesekali tendangannya semakin keras membuat debu di tanah kering itu semakin banyak berterbangan. Mendongakkan kepala keatas, rambutnya tersibak, kini wajah cantik itu benar benar terlihat sempurna, masih sangat muda, masih tampak lugu, “huft..”. Semakin kesal saja, kakinya sudah lelah diatuk atukkan ketanah. Ia memutuskan untuk jongkok, kini giliran tangan dan jemarinya yang mengorek orek tanah kering. Tak bosan bosannya tanah kering itu menjadi obyek kekesalannya. Tak lelah juga ia, menggambar, lalu menghapusnya dengan telapak kakinya yng terbungkus sepatu. Dari tampangny...