Posts

Showing posts from August 6, 2014

For Her : Pria Eskrim

Image
Angin berhembus, mengibas rambut seorang gadis remaja, wajahnya manis, begitu lembut dan teduh, meski raut mukanya tak terlihat utuh karena tertunduk, sementara kakinya sibuk di adukan dengan tanah kering, membuat debunya berterbangan, seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Bosan. Mulutnya bergerak gerak menggerutu. Entah pada siapa?, tapi raut itu tampak begitu sebal, kesal. Sesekali tendangannya semakin keras membuat debu di tanah kering itu semakin banyak berterbangan. Mendongakkan kepala keatas, rambutnya tersibak, kini wajah cantik itu benar benar terlihat sempurna, masih sangat muda, masih tampak lugu, “huft..”. Semakin kesal saja, kakinya sudah lelah diatuk atukkan ketanah. Ia memutuskan untuk jongkok, kini giliran tangan dan jemarinya yang mengorek orek tanah kering. Tak bosan bosannya tanah kering itu menjadi obyek kekesalannya. Tak lelah juga ia, menggambar, lalu menghapusnya dengan telapak kakinya yng terbungkus sepatu. Dari tampangny...

Ocehan Pemilu : Aku Pasti Kecewa

Image
Tahun ini tahun yang sangat menegangkan meski tak ada pertumpahan darah tapi banyak hal yg membuat saya bergidik ngeri. entah salah siapa entah gara gara siapa, media menyebar berita ini itu, dijejaring social mereka menanggapi begini begitu. dan entah tak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, ini benar benar berwarna, apakah ini efek dari ketidak puasan kita pad peimpin terdahulu, hingga kita sanggup membuka mata,ataukah sebuah trauma mas lalu yg terlampiaskan dengan bebas. yah mungkin masyarakat mulai berpikir cerdas, atau memang sebenarnya mereka sudah berpikir cerdas namun baru kali ini bisa dikeluarkan dengan bebas. semua terpacu pada dua sosok, baik aktifisdakwah, masyarakat awam, anak abg labil. semua ikut bersuara, dan aku baru kali ini semua serentak ikut antusias, dari debat debat kusir dalam angkot, atau obrolan ringan saat berbelanja di warung, seua ikut andil. kata masa bodoh itu mulai berangsur hilang.

Insident #1

Image
Sebuah stadion besar, penuh sesak, orang orang ramai riuh. menyaksikan seorang pria berdiri tegak diatas podium, raut mukanya mulai menua terlihat dari lipatan lipatan kerut yang tergambar jelas di wajahnya, namun sangat jelas terlihat disana masih ada bekas bekas keperkasaan, tegap tubuhnya tak bisa menghilangkan bagaimana perjuangannya dulu di barisan militer membela 'Negara' . Matanya seakan menyala nyala, suaranya masih lantang berpidato didepan pendukungnya.

Oil Water

Image
"Cukup.., aku bukan boneka mu". Joe membanting pintu. bergegas pergi, Raya berlari meraih tangan Joe. Mendekap tubuhnya dari arah belakang. Joe mematung, termenung, ada rasa perih mengganjal mengingat ucapannya tadi. Joe kesal, namun ada bimbang merasuki hatinya. Raya tak melepas peluknya dari tubuh Joe. Bahkan semakin erat. Dan Joe gusar. Seperti gerimis yang turun. Joe melepaskan dekapan Raya. Membalik badannya, memeluk tubuh Raya, begitu erat namun, masih ada yang mengganjal dihatinya. "Joe, maafkan aku, ini bukan maksudku. aku hanya..." Suara Raya terputus oleh isak tangisnya yang tak tertahan. Dan Joe masih  terdiam, menulusuri luka dihatinya yang msih terasa perih. "Ray....." Suara Joe terasa begitu berat. "Aku.. hanya ingin. kita sejalan, melengkapi kekurangan tapi, apa yang kamu tunjukkan sudah berbeda, Kamu bukan Raya yang dulu. Dan aku masih tak percaya dengan...." Bibir Joe bergetar. Terbayang apa yang kemarin Ray...