Unknown

Tangannya gemetaran, matanya membelalak, cairan merah itu terus saja megucur dari shower. Darah, ini benar benar darah, Tia menjauh dari shower terburu, tak bisa berhenti, cairan merah darah itu tersu saja mengucur, panik Tia benar- benar panik, nafasnya menderu keras. Dari balik pintu terdengar lirih suara merintih, mirip deru nafas yang tercekik. Blank, lampu tiba- tiba saja mati. lalu menyala lagi. Menatap ke sekeliling, seperti ada sosoki bayangan yang tengah berdiri di balik kain penutup kamar mandi. Jantung berdegub tak menentu, suara lirih itu semakin terdengar jelas.

Pet, kucuran merah darah itu berhenti, sedikit ragu, Tia menyibak kain itu. "aaaaaa...". Menjerit lalu jatuh pingsan, sosok mengerikan itu menghilang bersama lampu yang padam. Tia mumbuka matanya yang terasa berat, panik melihat sekeliling, tubuhnya sudah terbaring lemas di atas shofa, kepalanya masih terasa sakit, "Da.. Darah,.. ", Teringat lagi kejadian semalam, tapi Tia masih bingung antara mimpi dan kenyataan. Mencoba meyakinkan diri Tia bangki dari atas shofa. Sepucuk pesan tergeletak di atas meja, juga sarapan pagi yang sudah mendingin, "Jangan kemana- mana dulu, semalam kamu terpeleset di kamar mandi, hati- hati, jangan banyak bergerak, oh ya jangan lupa makannya di habiskan, maaf kalau pas kamu bangun sarapannya sudah dingin From your Love: Frans" Tia tersenyum, tapi tiba- tiba saja mukanya berubah pucat. Terpeleset? di kamar mandi?, Tia merinding teringat sosok mengerikan itu, jadi apa yang dia lihat bukanlah mimpi? Tia belum benar- benar percaya dengan apa yang dia lihat, kertas yang ia pegang terjatuh, seakan tersambar, aneh ruangan ini tertutup, tak ada angin yang berhembus. Bergidik lagi, reflek Tia menoleh ke belakang, seperti mendengar tawa riang anak- anak yang berlarian. Dan tak ada siapa pun disana, hanya Tia seorang, hawa rumah itu berubah, tak henti- henti nya Tia merinding, ia pegangi lehernya mengusap- usap bulu kuduk nya yang berdiri. "Ini siang hari Tia, tak akan ada apa- apa!". Mencoba menenangkan diri, menarik nafas dalam- dalam, membuangnya perlahan. Aneh, baru saja udara berubah dingin, mata Tia seakan menangkap kelebatan bayangan hitam yang tak diketahuinya. Tak bisa mengendalikan rasa takutnya, Tia memilih keluar rumah, mencari udara segar, Meski kepalanya masih terasa sakit. Brakk, pintu itu serasa terbanting, padahal Tia hanya menutupnya perlahan, memberanikan diri menoleh ke belakang, horden jendela rumahnya terkibas, tak yakin dengan apa yang ia lihat Tia memilih memalingkan padangannya dari soso yang tengah berdiri di depan jendela itu, sosok yang masih terbayang dalam otaknya, buru- buru Tia pergi meninggalkan rumahnya, rumah indah tapi tiba- tiba saja berubah tampak menyeramkan, entah itu halusinasi saja atau memang sebuah kenyataan, Tia tak tahu, ia juag belum cerita ke siapa pun tentang kejadian yang ia alami. Ya sudahlah, setidaknya seharian ini sebaikbnya Tia tak ada di rumah, selain karena bayangan yang selalu saja mengganggu nya, Tia sudah cukup merasa bosan di rumah sendirian, menghirup udara luar, bertemu banyak orang yang sama sekali belum sempat ia kenal. Frans sibuk dengan pekerjaan kantornya, sementara Tia tak boleh terlalu dekat dengan tetaangga sekitar, entah masalahnya apa, itu yang sering diucapkan Frans padanya, alasanya hanya karena limgkungan sekitar belum cukup Tia kenal, "Aku ga mau kamu kenapa- napa nantinya". alasan yang cukup aneh untuk dijadikan alasan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2