For Her : No Tear to Memory

"Kak..".

 Den tersentak. Dian menjawil dan memamerkan senyum manja. Den tahu maksud nya.
 "Aishh Kamu ini, tau aja. Iya deh tar Kakak beliin.". Dia berjingkrak. Den hanya menggeleng.
 "Makasih kak.". Ia daratkan kecupan di pipi Den.
 "Aishh, awas kamu ya...". 
Den berlari mencoba menangkap Diana Seperti masa lalu. Bercanda saling kejar mengejar saling menggelitik. Jerit dan tawa berbaur memenuhi rumah sepi mereka. Rumah Denis dan Diana. Tiba tiba saja Den berhenti di depan pintu sebuah kamar. Ada memory yang kembali terputar.
 "Kak Den". Lagi lagi tersentak. Selembar handuk pas mengenai mukanya.
 "Mandi dulu. Badan Kakak bau.". 
Ia tinggalkan memory itu mengendap di kamar kosong itu. Agar rindu yang datang memanggilnya kembali. Den mengendus ketiak nya dan seketika bibir nya berubah manyun. Diana tersenyum melihat tingkah Den yang menggloyor ke kamar mandi.

 
"Huft..", Helaan nafas berhembus saat Diana membalik kan badan ke arah kamarnya. Sebelum benar benar pergi, Diana kembali ke depan pintu itu, menutup dan membiarkannya terkunci, bersama seluruh kenangan haru. Sudah begitu lama, sangat lama, tak kan seorang pun bisa menahan rasa itu, tak kan. Seberapa egois orang pasti rasa itu ada, rasa yang akan membayang. 
Rindu, ya begitulah, kepergian kedua orang tua mereka yang begitu mendadak, tak ada sakit, bukan karena renta. Tapi, ah, air mata itu harus mengalir lagi. Tidak, tidak ada tangis, janjinya harus ditepati. Meski semua masih terasa jelas, keributan itu, darah yang mengalir ke mana mana, asap yang mengepul. Diana kecil menggenggam erat tangan bunda, sangat erat. Semua terjadi di depan matanya dan Denis mematung, menyaksi kepedihan itu, hanya berdiri, tanpa air mata. 
Namun, raut pedih itu tetap ada, terlukis jelas. Diana menggerung, tangisnya buncah, orang orang lalu lalang, suara sirine melengking lengking, kacau. Kecelakaan maut yang beruntun, merenggut puluhan nyawa, tapi tidak pada dua beradik itu, mereka selamat, menjadi saksi tragis, melihat apa yang tak seharusnya mereka lihat. 
Merasakan nafas terakhir dari kedua orang tuanya, bersimbah darah, terjepit diantara mobil yang mereka tunggangi, umur yang sangat dini untuk menyaksikan itu semua. Tapi, maut tak pernah memandang umur, tidak, tak ada kata kasihan. Semuanya memang harus begitu, tak bisa dihindari, pasrah. Seperti Deni yang terdiam merunduk, meski tanpa air mata, tapi hatinya sudah banjir, banjir dengan berbagai pertanyaan dan kebingungan, umurnya barulah lima belas tahun, masih terlalu dini untuk hidup sendiri, dan menghidupi adik perempuannya yang hanya berjarak tiga tahun lebih muda darinya. 
Tangan Den mengepal, entah geram pada siapa?, menatap kearah langit, lalu kembali tertunduk, melihat adiknya yang masih menggerung, bajunya basah oleh air mata dan darah. Entah apa yang di pikiran Denis, ia ikut jonkgkok menepuk pundak Diana lalu menarik tangannya bangkit, paramedis sudah mengangkat jasad kedua orang tuanya, kini mereka pun ikut masuk ke ambulance. 
Sore yang naas untuk dikenang, menyisakan perih rindu yang dalam meski sudah lima tahun berlalu, kamar kosong itu lengang, sangat lengang. Tak seharusnya ada air mata untuk sebuah memori yang terpendam. Diana buru buru kembali kekamarnya. Ruang kosong itu akan terus kosong dan hanya memori perih yang akan mengisinya. Dan lagi ia sudah berjanji, tak ada air mata lagi, tak boleh, cukup sudah air mata itu menjadi masalalu. Tak boleh keluar lagi hanya untuk mengenang perihnya.

 Sudah malam, Denis berdiri di beranda kamarnya, menatapi langit, penuh cahaya kecil yang jauh, berkerlip- kerlip. Tersentak lagi, tanpa disadarinya, Diana sudah memeluk punggung Denis, cukup erat.

“Indah banget ya kak?”. 
Suara manja khas Diana, membuka ruang sepi, Denis tersenyum, tangannya mengelus- elus jemari Diana yang terajut erat di perut Denis, lalu terdiam lama, sangat lama, bahkan tak ada suara kecuali jangkrik dan teman temannya yang mencipta simphoni malam,
“Dian, apa kabar papa dan mama ya?”. 
Kalimat itu tiba tiba membuat Diana merenggangkan pelukannya, masih saling terdiam, bahkan kini sepertinya binatang binatang itu ikut terdiam menyaksikan keduanya. Punggung Deni, basah, Diana menangis?. Ya benar, gadis itu sudah banyak menitikkan air mata di punggung Denis.
“Kak, Dian kangen papa mama?”. 
Sesengguknya tiba tiba. Denis melepas pelukan Diana dan berbalik badan, memeluk adik kecilnya yang tengah menangis rindu. Tes, air mata itu jatuh juga, entah sudah berapa lama tak ada air mata yang jatuh dari mata Denis, tapi malam ini, air mata itu harus terjatuh sekali lagi, Denis mengusap usap kepala Diana, mereka berdua kini menangis lagi, seperti dulu. Rindu tak akan mudah untuk dilepas begitu saja, seegois apapun, rasa rindu akan selalu ada, hadir tiba- tiba, lalu mencipta sesak mendesak, mendorong mutiara bening keluar dari kelopak mata. 
Kesunyian malam berubah tangis rindu, masih di beranda, mereka masih saling memeluk satu sama lain, mencoba menghibur dan mengusir rindu melelahkan itu. Ah, begitu menyiksa, menahannya bertahun tahun tak cukup untuk merubah rasa itu, tak cukup. Pada akhirnya malah menyesak dada. Huft, nafas terasa begitu berat, meski udaranya bersih. Tangis tak lagi terdengar, hanya sunyi yang tersisa, sunyi, dan dingin malam itu, membuat keduanya tetap bertahan, sampai rasa lelah datang.
“Kak Den, besok pulang sekolah kita jenguk papa mama yuuk..”. 
Diana melepas pelukannya, mengusap air mata yang sudah terlanjur banyak membasahi tubuh, Denis mengangguk, lalu mengusap semua air mata yang sudah lama tak keluar, tersenyum pada Diana, mencubit kedua pipinya. Gemas.
“Dian, sudah malam, sebaiknya kamu cepat tidur, biar besok ga telat bangun”.  
Dengan gaya centilnya, Diana menggeloyor keluar kamar Denis, Deni menggeleng, lalu tersenyum. Diana satu satunya yang ia punya, Diana semangat hidupnya, Diana, alasan mengapa air mata itu harus ia tahan, Diana alasan ia bertahan hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, Janji itu harus ia tepati. Diana, adiknya memang tampak kuat. Tapi, ada sesuatu yang tak di ketahui Diana, dan Denis tahu, Diana tak sekuat itu, Denis tahu dia harus menjaga Diana, sekuat tenaga. 
Berat, sungguh berat, beban itu harus ia genggam sendirian, sudah lima tahun lebih. Janjinya untuk Diana, adik kecil satu satunya, sekaligus satu satunya keluarga yang ia miliki, sanak family? Lupakan, dari dulu tak satu pun yang ia kenal. Bahkan saat itu, sulit menyebutnya. Huft,  saat kedua orang tuanya pergi. Tak satupun dari mereka yang datang, hanya berdua Diana dan Denis, melihat proses pemakaman itu. Hingga kini, mereka tak lagi perduli, tak satu pun, meski hanya mengucap maaf dan bela sungkawa, entahlah. Perih untuk mengingat itu semua, pedih untuk mengharap kedatangan mereka. Bahkan mungkin sama sekali tak berharap mereka datang. Denis sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri, menopang kehidupan lemah Diana. Sendirian. Tak butuh bantuan.  
“Ah…”. 
Denis menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, tengkurap, lalu memejam. Melepas semua rasa lelah, membuang semua rasa penat. Sementara malam makin merangkak, sunyi makin menjadi, dingin mulai bergelayut, Denis sedikit menggigil saat angin kecil itu berhasil menerobos masuk dari celah kecil jendela kamar yang tak tertutup rapat. Bebintang tak lelah untuk berpendar, menghiasi gelap, menjadi petunjuk jalan pulang, menemani rembulan tersenyum tipis  memandangi mentari tersembunyi di ufuk barat, kian hari kian lebar. Rembulan andai kau tahu, rasa rindumu pada mentari itu telah membuat para punguk menciutkan rasa rindunya padamu
Malam, rindu. Malam sunyi, sunyi kesepian dan begitulah siklus rindu. Dari sepi, rindu itu datang. Dari sepi rasa itu ada. Rindu dan sepi tak terpisah, seperti malam dan sunyi, selalu bergandengan, tak heran jika rindu selalu menyergap mereka yang kesepian di malam hari. Begitulah. “Maafkan kakak, gagal menjaga mu dengan baik, Diana!”. Terpejam. Memeluk boneka bulat berbentuk ikan kembung yang tak pernah sempat di berikan untuknya.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2