Negri Tak Tertebak : Jalanan


Wahyudin, pemuda berprestai yang hidup dari jalanan.
Jalanan adalah sebuah nasib keterpaksaan, memaksakan segalanya, menjadi pemulung, mengamen, berdagang asongan, mencopet bila ada kesempatan.Hanya untuk meikmati sebungkus nasi, atau segelasair minum. Dan entahlah mungkin juga mengobati rasa rindu dari nikmatnya Aibon. melupakan ejenak getir yang menghimpit dada, diantara kepulan apa kendaraan bermotor dan kepul aap roko yang mengudara dari krongkongan.




Ajang kejahatn terhadap anak anak, perbudakan, pemerkosaan, hingga kasus sodomi pada bocah bocah belia yang seperti jadi tradisi silih berganti. Tak terjamah atau lebih tepatnya terlampau pesimis untuk merangkulnya.

Menyalahkan siapa? Tuhan kah, itu adalah satu kebodohan, pemerintah? Ah mereka terlalu sibuk dengan urusan pengembalian modal kampanye yang sebagian adalah hutang dari bank.
Jalanan adalah episode pelik perkotaan, terkadang tak terjamah karena terlampau diremehkan. 
 Dipandang sebelah mata, dengan bermacam sisi negative yang tersirat kasar sama rata.

Sebuah perjalanan kecil dan singkat tadi sore mempertemukanku dengan sesook pemuda dengan penampilan urakan masuk kedalam angkot yang aku tumpangi. Awalnya ku kira kau adalah penumpang seperti yang lain. Hingga kau mulai basa basi tanpa memperkenalkan diri, meminta belas kasih dari para penumpang. Lalu sebuah suara yang cukup kerakeluar dari mulut mu.

Jalanan adalah sekolah.

Bagi kami kreasi bukan tradisi melainkan harta yang tak terbeli
dan bagi kami jalanan adalah sekolah tapi ingat jangan anggap kami sampah

Banyak orang bicara semaunya tentang cara hidup kita
tak perduli apa kata mereka
yang penting bisa berkarya dan terus

Berkarya tuk hidupkan dunia, dengan seni dan peran budaya
bergerak berontak itu biasa karna keadilan tak ada
jangan lihat kami sebelah mata

Mengingat semua hal yang kau katakan
tentang kami dan jalanan
jangan anggap sebagai pelarian karna disini kami tumbuh dan terus


Berkarya tuk hidupkan dunia, dengan seni dan peran budaya
bergerak berontak itu biasa karna keadilan tak ada
jangan lihat kami sebelah mata


Bagi kami kreasi bukan tradisi melainkan harta yang tak terbeli
dan bagi kami jalanan adalah sekolah tapi ingat jangan anggap kami sampah


Maksudmu mungkin ingin bernyanyi, tapi dengan suara semacam itu malah tampak seperti sedang berorasi sesuai keresahan yang kau alami dan beberapa temanmu.

Tak tahu harus berkata apa?. Padahal pemandangan seperti itu bukan lah hal yang baru, aku tertegun sejenak. Bukan pada suaranya, bahkan ia ama ekali tak menyanyikannya dengan benar, sekilas mirip orang tengah berteriak teriak setengah gila. 

Aku jadi berpikir pada apa yang ia bawakan, memang angat kontras dengan penapilanya, berkacamata hitam teling tertindik. Dua lengan yang dihiai tattoo, orang akan mengira ini bukan remaja baik baik. Yah kita memang sering terjebak pada fakta judge book by cover. Hanya itu yang dapat kita lihat secara visual.  Dan mudah untuk dicerna tanpa berpikir keras.

Pemuda belasan tahun itu turun dari angkot yang aku tumpang, entah mendapat berapa rupiah, ah andai tadi aku membawa uang receh mungkin ada secuil petunjuk atau sekedar bahgia yang bisa tersemat. Maaf kan aku kawan, maafkan aku saudaraku.

Tapi lagu yang kau ‘Orasikan’ tadi membuat ku kembali terpikir apa yang akan terjadi jika aku ada di psisi mu saat ini. Ah tuhan masih memberiku keempatn untuk mengenal –Nya lebih jauh. Dan entah apa kau juga dekat dengan Tuhan. Semoga kau tetap mendapat petunjuk yang benar. Meski penampilan mu membuat orang berpikir negative.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2