Tasbih Yang Tak Kita Mengerti

Aku tahu  ini kesalahan ku dulu. Tapi aku tk pernah menyesali itu, karena aku percaya pilihan ku yang salah adalah setapak kecil menuju pengalaman senili zambrud biru. Ah biarlah menjadi bagian hidupku, membetuk karakterku satu satu, hingga menjadi kesatuan utuh bernama aku

Harus kembali terjebak di sebuah keterasingan, di tengah sebuah majelis kecil, rasanya sudah terlampau lama aku  meninggalkan tempat sperti ini, tapi entah mengapa aku belum terlalu bia memfocuskan diri, maih banyak pemikiran menyangkal yang berseliweran saat mendengarkan beberapa kalimat lembut dan santun sang pengisi majelis, ada saja bantahan bantaha kecil menyelinap dalam pikirku. Meski sekedar melintas dan tak urai.




Aku masih sibuk dengan pena yang menari di ataskertasenulikan abjad demi abjad, setiap apa yang diberikan sang mentor. Namun sekali lagi hanya saja pikran ini tak terpikir kearah yang tepat.

“oh ya memang seharunya begitu dan aku udah tahu itu?”.

Satu simpul yang cukup menggelitik pikiranku untuk menghujat.

“Hey big mouth Isn’t enough, dan kau cukup sekedar tahu itu tak ada gunanya jika tanpa emplementasi”.

Ah entahlah kenapa pertanyaan ini tampak terlalu intelektis bagiku.
Dan yang sebenarnya aku mengakui bahwa selama ini aku hanya cukup tahu tanpa ada pengamalan. Karena yang ku tahu tak lebih dari setetes dari jemari yang kucelupkan kedalam lautan, hanya sedikit saja dan tak ada yang berbuah. Pohon kering.

Dan benar saja, selama empat tahun lebih selepaskepergianku dari tempat menimba ilmu aku hanya seonggok ranting kering. Ada kalanya kau merasa malu pada diri ku, pada teman temanku., seperti saat ini dudu bersama mereka yang punya emangat dan optimisme ilam yang begitu tinggi.

Masih dalam majelis yang ragaku bersemedi di sana tanpa nyawa yang ikut serta, aku aibuk berkelana dengan pikiranku, sampai satu ayat berhail menyeretku hadir kedalam perenungan majelis.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamya bertasbih pada Allah. Dan tak atupun melainkan bertasbih dengan memuji Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Seungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al- Isro: 44)

Aku tersenyum, mendengar ayat itu, tersipu malu pada bebatuan, pada bunga bunga, pada kupu kupu yang terbang melayang bersama tasbih tasbih mereka yang mengangkasa.

Mereka mengingat Tuhan dengan cara mereka, bahasa mereka, dan tak satupun yang aku mengerti.

“Lalu sudahkah aku total dalam menyakini Tuhan seperti yang mereka yakini, dimana letak totalitas itu”.

Tertohok keras, semua memori itu berputar putar lagi. Ya aku telah kalah dari mereka yang tak berakal. Ya Allah, aku tahu engakau Maha Pengampun Dan Maha Penyantun, tapi aku malu dengan sifat kurang ajarku, aku malu untuk mengakuinya, dan itulah secuil kesombongan yang tersemai halus dalam hatiku.

“Islam adalah kepasrahan, tunduk dan patuh tanpa tercampur kesyirikan meng Esakan Allah. Tunduk 
 Dengan Ketaatan, baik suka maupun benci.”

Lagi lagi aku harus terjerembab lebih jauh, jatuh tanpa sadar dalam sebuah jurang yang cukup dalam. Sendiri sepi dan berdebam didasarnya, seakan tak ada kekuatan untuk kembali mendaki terjal itu. Ah tidak aku tak bisamenyerah disini.

Dan seekor cicak menempel di dinding ia menatapku seakan bertanya sudahkah aku bertabih memujiNya?.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2