Kejutan.
Memang tak ada yang bisa menebak takdir, ramadhan ini ramadhan paling tak bersahabat, bukan lingkungan bukan pula waktu yang manghalang, tapi hatiku yang sulit menemukan nikmatnya dan tenangnya bulan ramadhan.
Banyak waktu tapi kubuang dengan percuma, tarawih yang tercecer, ah tilawah yang terbengkalai. rasanya sangat menyesal, dan ya penyesalan selalu ada di akhir.
Ini bukan yang pertama, dua tahun ini adalah ramadhan terburuk yang aku jalani. jauh dari keluarga, juga orang orang yang mendukung penuh semangat, memang tak ada yang salah dengan puasanya, tapi ramadhan bukan hanya soal puasa. Dan aku sekali lagi menyianyiakan itu,
Dua puluh hari sudah berlalu, tak ada hal signifikan yang aku lakukan. Rugi, rugi dan rugi.
sisa sepuluh hari lagi, aku bertekad, untuk menambalnya di sepuluh hari terakhir, ya aku sudah bertekad kuat untuk memperbaiki ramadhan yang telah ku rusak.
Tapi Allah ingin mengetahui lebih dalam tekadku, sebuah kado kecil diberikannya untukku. Ini sebuah kejutan termanis yang menguji seberapa dalam izzah yang ada dalam hatiku.
Hari ke dua puluh, perjalanan menyenangkan memasang sepanduk untuk donasi kesehatan, tak ada yang tahu jika aku harus membawa oleh oleh kecil dari Allah.
tak ada yang menyangka jika motor yang aku bonceng akan terperosok jatuh, dari arah belakang seorang anak muda berseragam putih abu abu, dengan motor kecepatan tinggi, melesat hingga membuat keseimabngan motr tak terkedali. Aku jatuh, lutut, lengan kiri, bahu kiri, dua telapak tangan berhasil mencium aspal jalanan pagi ibu kota.
Terasa begitu perih, meski hanya luka ringan, sesaat aku dan temanku yang membawa motor sejenak dudu dan beristirahat. Banyak yang seketika terbayang, sebuah hukuman atau teguran, aku juga tak terlalu paham. Mungkin hati ini yang terlalu bebal untuk menerimanya.
Berat rasanya, tapi apa aku harus menyerah pada ujian ini, dan seketika itu pula aku kembali tertohok oleh sebuah sepanduk yang aku buat sendiri : Palestine.
Luka mereka lebih parah, jauh lebih mengerikan dari ini, apa aku harus menyerah sementara mereka berjuang. Ah ini terlalu melankoli, tapi jiwaku sebagai manusia selalu terombang ambing oleh rasa.
"Apakah allah akan membiarkan hambanya mengatakan "aku beriman" tanpa memberikan ujian?"
Ini kejutan termanis yang berhasil menusuk hingga kini aku gamang, ini ujian, jika aku menyerah aku kalah, jika aku melawan apa akan jadi berkah.
"La haula wala Quata illa billah."

Comments
Post a Comment