Sepuluh Hari Terakhir : 22















 Ada sedikit sesal rasanya, tak bisa ikut bareng bareng iktkaf di masjid. mengingat luka akibat mencium aspal jalanan kemarin hari yang belum kering, yah sebenarnya bukan luka yang teramat besar, tapi karena ingin merawatnya di kantor saja, selain karena ada banyak peralatan kesehatan disini, terasa lebih nyaman saja membersihkan luka yang sebagian ada ditempat yang tersembunyi dan mengahruskan untuk membuka baju.

Tekad untuk menambal bolongnya amal ramadhan tahun ini belum surut, aku masih yakin bisa melakukannya, memang tak akan cukup menggantikan dua pluh hari yang hilang terbuang percuma tapi setidaknya, aku tetap harus berusaha sebaik yang aku punya.

Aku tahu, Allah tak ingin hanya melihat ucapan tapi harus ada tekad yang benar benar kuat. Dan kejutan di hari ke dua puluh itu satu dari sekian ujian yang harus aku hadapi, ya hanya satu dari sekian yang akan aku terima, dan tantangan sebenarnya adalah, melawan rasa malas yang bukan lagi teman bagiku melainkan seakan sudah menjadi  sahabat karib ku. Terlebih ada sedikit alasan yang bisa saja kubuat buat untuk menunda amal ibadah.

Air adalah musuh utamaku sekarang, entah mengapa menyentuh air seakan menyentuh ratusan duri yang siap menusuk nusuk tubuhku. Aku tahu ada debu yang bisa saja menggantikannya saat wudhu tapi, aku masih mampu menahannya, aku tak mau bermanja manja. Ini luka kecil, sangat kecil.
Ah ya, saat ini mandi adalah aktifitas yang paling mengerikan. sedikit berlebihan memang tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Baru kali ini aku bisa merindukan segarnya air mandi, rindu relaksasi harumnya sabun, ah aku rindu tapi saat ini aku tak bisa merasakan itu. Hanya ingin lekas cepat dan mengerikan badan terbebas dari air.

Belum ada hal yang berubah drastis memang tapi aku bersyukur masih dengan nyaman membaca tilawah, tak terlalu banyak, hanya beberapa lembar saja, tak jelas berapa juz entah satu atau satu setengah aku tak mencatatnya.

Dan kabar tarawihku? oh ya alhamdulillah tak lagi tercecer. Ah ini tak terlalu penting, karena yang aku ingin ini tetap ada sampai syawal menjemput.
Ingin tetap bersama api kecil ini, menjaganya agar tak tertiup padam.

Ada aktifitas baru yang aku lakukan saat ini, menganti perban luka, dan detik detik ketegangannya.
Juga duduk di balkon lantai dua, menyesapi teh hangat sembari memandangi udara malam yang masih ramai riuh oleh asap asap pengguna jalan. Berseliweran dengan sibuknya, entah dari mana atau hendak kemana aku hanya melihatnya sambil tersenyum.
ada beberapa bait ayat yang  teringat disela sela renungku.
"fabiayyi ala'i robikuma tukadzdzibaan"

ini adalah nikmat, aku masih beruntung dari saudara kita yang jauh di negri sana, apa kabar mereka, tentu tak seberuntung nasibku yang beradadi tanah damai ini.

Aku ingin memperjuangkan sisa ramadhanku yang tercecer, membereskannya dan lulus menjadi manusia taqwa.

"La'alakum tattaquun".

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2