For Her : Pria Eskrim
Angin berhembus, mengibas rambut seorang gadis remaja, wajahnya manis, begitu lembut dan teduh, meski raut mukanya tak terlihat utuh karena tertunduk, sementara kakinya sibuk di adukan dengan tanah kering, membuat debunya berterbangan, seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Bosan. Mulutnya bergerak gerak menggerutu.
Entah pada siapa?, tapi raut itu tampak begitu sebal, kesal. Sesekali tendangannya semakin keras membuat debu di tanah kering itu semakin banyak berterbangan. Mendongakkan kepala keatas, rambutnya tersibak, kini wajah cantik itu benar benar terlihat sempurna, masih sangat muda, masih tampak lugu,
“huft..”.
Semakin kesal saja, kakinya sudah lelah diatuk atukkan ketanah. Ia memutuskan untuk jongkok, kini giliran tangan dan jemarinya yang mengorek orek tanah kering. Tak bosan bosannya tanah kering itu menjadi obyek kekesalannya. Tak lelah juga ia, menggambar, lalu menghapusnya dengan telapak kakinya yng terbungkus sepatu.
Dari tampangnya, gadis ini tengah menunggu jemputan, seragam sekolahnya masih rapi. Lelah jua, tak salah jika mereka mengatakan, menunggu itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, tangannya masih sibuk dengan pekerjaan melukis diatas tanah kering, hem bagus juga, meski terlihat asal guratan guratan dari, jemarinya begitu sempurna, sebuah wajah pria, mirip tokoh tokoh di manga. Tersenyum, tapi tiba tiba, gadis itu menambahkan sedikit goresan kecil, membuat wajah tampan itu tampak rusak.
Efek sebal, ah dia menambah satu tokoh lagi, di belakang wajah tokoh pria itu, satu satu guratan itu membentuk wajah seorang gadis yang tengah marah dan kesal. Mengacungkan kepalan tangan kearah tokoh pria, ah, mungkinkah itu perasaan yang tengah dialaminya, dan tokoh pria itu mungkinkah pria yang sedang ditunggunya, entahlah.
Tiba tiba sekali lagi gadis manis itu menggerakkan kakinya menghapus semua guratan yang telah digambarnya. Puuhh, debu debu berhamburan lagi, sementara matahari semakin terik membakar, saat mendongakkan kepala, satu corn eskrim meleleh disodorkan padanya. Mendongak lagi keatas, seorang pria dingin tersenyum tipis, tanpa berkata, pria tak dikenalnya itu masih berdiri disampingnya, dingin sedingin eskrim coklat yang diberikan padanya, jangan bertanya siapa dia, tak ada yang saling kenal.
Sudah dua hari ini, mereka bertemu tanpa kata, dan selalu eskrim coklat diberikan padanya, gadis itu tersenyum dan mengucap terima kasih. Meski tak pernah digubris oleh pria disebelahnya, tak apalah, siapapun dia, dia selalu menemani kesepiannya saat menunggu, meski sebenarnya sama saja, karena tak satupun kalimat yang keluar dari pria bertampang dingin itu. Merasa takut? Tidak, entah mengapa meski tak mengenal pria itu tapi, ada perasaan nyaman saat ia datang, ‘menemani’ jadwal tunngunya yang menyebalkan.
Terpikir untuk bertanya duluan tapi urung, lebih memilih diam, menikmati eskrim coklat pemberiannya, memang terasa sedikit aneh, sudah dua hari ini, bertemu dan kejadiannya seperti itu lagi, dingin, diam sunyi. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan pria yang ada disebelahnya itu. Kenapa ia selalu berbaik hati ‘menemani’ jadwal tunggunya itu, entah apa maksud pria itu, tak tahu. Tapi sejauh ini tak ada hal yang mencurigakan. Tak lama, mobil jemputannya sudah datang.
“Non Jeany, ayo pulang!”.
Sedikit sebal karena terlalu lama menunggu, gadis itu melangkah malas. Sebelum masuk mobil ia sempat menganggukan kepala pada pria yang telah ‘menemani’ jadwal tunggunya, dan berlalu pergi bersama mobil yang ditumpanginya, dari kejauhan, pria aneh itu juga beranjak pergi entah kemana. Jeany meneruskan makan eskrim coklatnya.
Tersenyum aneh. Suka? ah Jeany sendiri tak tahu perasaan apa itu, yang ia rasakan hanya rasa damai saat ia datang, meski tanpa kata apa apa, semuanya sudah cukup membuat Jeany senang, bahkan kini ia mulai merasa ingin bertemu dan merasakan perasaan itu lagi, perasaan terlidungi, perasaan ditemani.
Selama ini Jeany hanya sendiri, tak banyak teman yang ia kenal, di rumah pun Jeany hanya sendiri, ayah dan ibunya sibuk. Rumah selalu kosong. Rumah besar itu, mewah dan megah, hanya Jeany dan beberapa pengurus rumah, mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing masing, bu Nar sibuk di dapur menyiapkan keperluan makan, bu Ind, sibuk beres beres, Mang Idin, sibuk merapikan halaman rumah, sementara pak Joni sibuk wara wiri, dengan mobil menjemput dan mengantar, rumah mewah tapi seperti nya terlalu sempit. Ah entahlah yang sempit rumah nya atau perasaan Jeany yang selalu kesepian. Menjadi satu satunya anak tunggal itu kadang menyenangkan tapi, kesepian itu membuat kesenangan itu tak berarti. Hampa.
“Non Jeany, sudah sampai”.
Gadis itu tersentak semua lamunan tentang hidupnya buyar. Ia tersenyum pada pak Jon lalu turun dari mobilnya, menenteng tas buru buru kelantai atas. Mengelepar di ranjang mentapi langit langit kamarnya yang berhiaskan lampu cantik, import dari itali, eskrim coklat sudah habis dari tadi. Tersenyum lagi, wajah dingin pria itu terlukis jelas, Jeany menutup muka malu, ah malu? Apa Jeany benar benar suka pada pria itu? Tapi kenapa? Apa yang ia suka dari pria dingin tanpa kata itu?. Adakah yang tau, Jeany sendiri tak mengerti harus menjawab apa pada perasaan yang tiba tiba saja datang menggantung disudut hatinya. Ia benar benar merindukan perasaan itu. Sampai sampai lupa, seragam sepatu, tas, semuanya belum ia lepas, masih saja menutup muka, tersenyum diam diam, mengingat semua gurat wajah pria aneh itu, satu satu, terlukis sempurna dikanvas hatinya, kali ini tidak seperti tokoh manga yang sering ia gambar diatas tanah kering mau pun di kertas kertas buku pelajarannya. Wajah itu sempurna terlukis, tersenyum dingin, meisterius, aduh tak tahu lagi bagaiman Jeany menggambarkan pria itu.
“Non Jeany, makan siang dulu!”.
Bu Nar masuk kamarnya yang tak terkunci, menggelengkan kepala melihat gadis itu sama sekali belum melepas seluruh perlengkapan sekolahnya, Jeany membuka wajahnya, tersenyum malu pada bu Nar yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri, tanpa diminta bu Nar duduk di pinggir ranjang Jeany, tersenyum, ia tahu ada yang sedang terjadi pada ‘cucu’ kesayangannya.
“Non Jeany ada apa?”.
Jeany menutup mulut menggeleng, tersenyum kecil, mirip bocah yang ketahuan melakukan kesalahan.
“Jujur deh sama nenek, cowok mana yang udah bikin cucuku ini senyum senyum?”.
Deg, kalimat itu membuat Jeany kelabakan, ia malah bingung harus berkata apa pada bu Nar, ia juga masih tak mengerti perasaan apa yang sedang ia rasakan. Terlalu dini untuk bicara soal cinta, Jeany baru kelas dua smu, masih terlalu kecil, Jeany belum berani, tidak seperti teman temannnya yang sudah sering gonta ganti pacar, bahkan ada yang sejak smp, ini pertama kalinya bagi Jeany. Jadi ia belu bisa mengerti benar perasaan apa yang merasuk kedalam hatinya.
“Ya sudah kalau ga mau cerita, ga papa kok!, yang penting sekrang ganti baju, kita turun makan siang. Okey!”.
Tepuk bu Nar pada pundak Jeany sebelum berlalu pergi, meninggalkan pertanyaan pertanyaan rancu yang terpendam dalam hati. Jeany tersenyum. Malu.
#. Malam datang lagi, Denis gelisah, Diana belum juga pulang, pukul 19.00, tak biasanya Diana seperti ini, ponselnya tak bisa dihubungi, tak satu pun temannya yang tahu, ini salahnya, pertengkaran kecil tadi pagi adalah awal dari semua ini, Denis benar benar menyesal. Tak seharusnya ia lakukan itu, Diana masih ngambek, ah entah kemana?, gadis itu masih begitu labil, sulit menebak temperature emosinya,
“Ya tuhan kemana anak ini.”
Begitu terasa berat. Jika terjadi sesuatu pada Diana, Denis mungkin tak akan memaafkan dirinya sendiri.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan..”.
Tut tut, terputus, Denis makin gusar, tak tahu lagi harus berbuat apa?, malam berubah gelap, rerintik kecil berjatuhan satu satu dari langit lebam, makin deras. Menuju garasi, Denis memutuskan keluar mencari adiknya yang tak pulang, tangannya gemetar, kekhawatiran itu datang lagi, di pikirannya sudah terbayang banyak hal buruk,
“Diana, kemana kamu sayang, jangan bikin kakak cemas begini”.
Tangannya masih mencoba menghubungi nomor Diana, masih sama suara mesin penjawab itu memberitahukan nomor itu tak bisa dihubungi. Sial, entah mengumpat pada siapa, Denis benar benar kesal pada dirinya yang tak mampu menjaga adik kecilnya.
Mobilnya melaju kencang, satu tempat pertama yang harus ia kunjungi, sekolahan Diana, mungkin saja anak itu masih berada disana. Mobil itu melaju kencang, menerobos guyuran hujan yang semakin menderas. Macet. Aduh, kenapa harus ada acara ini di tengah kekhawatirannnya, melirik jam, pukul 19:37. Malam semakin gelap, tumpukan kendaraan itu tak kunjung menemukan jalan keluar.
Denis makin gelisah, bibir dan gerak tangannya gemetaran. Sura klakson berbaur dengan gemertak air hujan, seamkin menambah rumit suasana, orang orang berteriak mengumpat satu sama lain, berkali kali, denis menekan klakson keras keras, tangan yang satu masih sibuk mencoba menhubungi Diana, tak ada jawaban.
"Tin tin,"
Lamunan Denis buyar suara klakson itu mengagetkannya, sudah ada sedikit ruang untuk maju, akhirnya acara menyebalkan itu berakhir, Denis memacu laju mobilnya makin kencang. Masih cemas, masih gemetaran. Di sebuah gedung ia berhenti, turun menerobos hujan yang msih mengguyur, gedung itu sudah cukup gelap. Hanya beberapa lampu di luar yang menyala. Masuk, mencari cari, berteriak menyebut nama Diana. Tak ada jawaban. Kosong. Lengang. Hanya gemertak air hujan yang berdentum menimpa genting sekolah. Diana tak berada disana. Kacau. Bingung linglung!.
Kantong celananya bergetar getar, gugup Denis meraba raba, meraih ponselnya,
“Kak Den, jemput Diana. Diana takut kak”.
Suara itu tampak begitu lemah.
“Kamu dimana sayang?”. Denis masih gemetar.
“Maafin Diana kak, tadi Diana jenguk mama papa ga bilang dulu, sekarang Diana ga tahu mau naik apa?”.
Huft lega rasanya, Denis sudah tahu harus kemana. Kembali ke mobil, melanjutkan perjalanannya. “Dasar anak nakal”.
Gerutu Denis sebelum melajukan mobilnya.
Denis tersenyum, menghampiri, Diana yang tertidur di dalam wartel, setelah meminta ijin ke pemilik toko, Denis menggendong adiknya. “Kakak lama sekali, Diana lelah”. Celoteh anak itu tak sadarkan diri,
“Dasar anak bodoh, kau tau tubuh mu berat”. T
ersenyum kecil, tak lupa ia ucapkan terima kasih pada pemilik toko yang telah menjaga adiknya, sedikit menahan berat, menggendong bocah yang kini terlelap memeluknya, berjalan kearah mobil yang cukup jauh terparkir. Hujan masih menyisakan rintik rintik kecil, mengiringi langkahnya berkecipak beradu pada genanngan hujan.
Dalam mobil, Denis membiarkan Diana tertidur di pangkuannya, sementara tangan kananya mengendalikan laju mobil, tangan kirinnya membelai rambut Diana yang sedikit basah terkena sisa hujan, menunduk mengecup keningnya begitu dalam. Melanjutkan menyetir mobil menuju rumah. Semuanya sudah tenang. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Denis bisa tersenyum lega, seperti lagit yang kini tak lagi menyimpan beban kelabu. Satu kerlip kecil mulai terlihat, “Kakak dingin…”. Mengigau lagi, Denis tersenyum, mengambil jaket menyelimutkannya pada tubuh lemah Diana, tubuh gadis itu bergerak mencari posisi nyaman. Lalu kembali tenang.
#. Jeany sudah kembali ke kamarnya, terduduk manis di meja belajar. Masih saja simpul simpul senyum itu terukir di wajah manisnya. Remaja labil, mendapat pengalaman pertama. Ah, perasaan itu, rindu, damai, sejuk. Tak ad Pe-er, tak tahu harus berbuat apa?, bengong.
Tangannya mulai meraih sebuah buku, membuka lembaran lembaran penuh guratan guratan tokoh manga, sampai pada lembar kosong, gadis itu mengambil pensil kesayangannya, jemari mahir itu mulai menggurat gurat, garis garis, lekukan lekukan.
Sebuah mata, ya mata yang terkesan tengah menatap dengan pandangan dingin, sedingin eskrim, gurat gurat itu mulai terlihat jelas, sesosok wajah pria nan tampan dengan mata dinginnya. Satu satu, ia sudah berdiri tegap, berelindung dibawah pohon rindang nan sejuk, matanya tak berhenti menatap kebawah, dari situ sosok gadis muda mulai tercipta.
Gadis muda yang tengah jenuh menunggu, terjongkok menikmati satu corn eskrim. Sama, tampaknya Jeany menambahkan corn eskrim dipegang erat pada pria bermata dingin itu, gurat gurat itu jelas sudah. Entah apa maksudnya, Jeany sendiri tak begitu mengerti.
Jangan tanyakan apakah itu gambaran rasa rindunya!, Jeany hanya menggambar, menggambar semua yang ia ingat di benaknya, semua kesejukan itu, rasa damai itu. Ah, Jeany makin tersenyum lebar. Lamat lamat ia perhatikan tokoh manga yang ia ciptakan, tersenyum lagi. Lalu membenahi bebarapa hal, membuatnya tampak hidup untuk dipandang.
Pengobat rindu?, aduh apa lagi itu, Jeany benar benar tak tahu, masih begitu polos, semua yang ada dalam pikirannya akan tertuang menjadi manga jika sudah bertemu kertas kosong dan pensil, bahkan buku catatan pelajarannya penuh dengan tokoh tokoh manga, juga tanah kering tempat ia menunggu tak lepas dari guratan jemarinya mencipta tokoh manga.
Belum merasa lelah, satu lembar lagi ia buka, kini ada seorang gadis manis, tergambar dari dalam sebuah mobil, menatap ke arah luar jendela, mata itu tampak serius mengamati, sesosok pria yang berjalan pergi meninggalkan pohon rindang, tatapan dingin, lurus kedepan.
Jeany menghela nafas, membenahi tempat duduknya mencari posisi yang cukup nyaman untuk kembali teratuk pada tokoh manga yang sedang ia ciptakan, menambah beberapa hal kecil, kupu- kupu, dedaunan yang jatuh tertiup angin, juga pancaran terik matahari yang begitu menyengat, hem tampaknya corn eskrim itu memang benar benar segar untuk di nikmati dicuaca yang begitu panas. Corn eskrim, meleleh, Jeany mulai merasakannya lagi.
Berhenti menggambar, dagu manisnya di topang dengan kedua telapak tangannya, tersenyum memandangi tokoh manga, entahlah tokoh manga atau pria dingin yang menjadi inspirasi tokoh manga yang sedanh ia nikmati di benaknya, keduanya sama. Sama sama dingin, sejuk dan membuat perasaan jadi terasa damai.
"Hoamzz,"
Tampaknya Jeany sudah lelah, mulai mengantuk. Gadis itu bangkit dari meja belajarnya menuju ranjang berwarna biru muda kesayanganya, menggelepar, lalu terpejam. Tidur.
#. Denis masih sibuk, mondar mandir. Di dalam kamar, lampu kamarnya sudah remang, hendak tidur tapi matanya belum bisa diajak terpejam. Keluar beranda kamar, memandang langit yang cukup cerah, meski tetes sisa hujan masih berjatuhan dari genting rumahnya, menatap keatas, seperti biasa, menatap rindu, mungkin itulah, tatapannya yang seolah olah dingin, tatapan rindu beku milik Denis, pada mereka yang telah lebih dulu meninggalkannya.
“Huft…”.
Menghela nafas, pendek namun terasa berat, satu kerlip bintang mengedip, Denis tersenyum, lalu kembali terdiam. Memejamkan mata, menghirup udara malam yang terasa dingin. Ah, air mata itu tak seharusnya ada lagi, tidak. “Ini sebab angin yang berhembus, membuat mataku jadi berair”. Gerutunya membohongi diri sendiri, mengusapnya, memandang jauh ke lampu kota yang berpendar pendar, indah, seperti pendar bebintang ynga kini mulai datang satu satu, dari gelapnya malam. “uhmm,,….”.
Tampaknya rasa katuk datang juga, kembali kekamar. Membanting tubuh nya di ranjang. Temngkurap, memeluk lagi pada boneka ikan Fugu, menggelembung bulat mirip bola berwarna hijau dan kuning, dipeluknya boneka itu erat erat, seakan tengah memeluk seseorang yang tengah ia rindukan,
“Diana, maafkkan kakak..”.
Terkulai lemas, terpejam, ada sesuatu yang terjatuh dari genggamannya, sebuah kertas, mirip kupon eskrim merek ternama.
#.Denis tengah sibuk di depan laptop, mengetik beberapa pekerjaan kantor yang belum sempat terselesaikan,
“Kak Denis…!”.
Bergelayut manja, tanpa permisi gadis manis itu menerobos masuk kamar kakaknya, Denis hanya menggeleng melihat tingkah adik kecilnya, kalau sudah begini, pekerjaannya tak kunjung usai, Denis menghentikan aktifitas kerjanya. Membiarkan Diana yang merangkul erat bemanja manja, gemas rasanya. Denis mencubit hidung Diana, seketika moncong tapir terbentuk di mulutnya, bersungut sungut, cemberut. Denis masih menunggu Diana berbicara, entah gadis itu tampak mencari cari kalimat yang tepat untuk diucapkan. “Pasti ada maunya, hayo ngaku?”. Diana tersenyum, tingkahnya ketahuan juga.
“Hem, kak Denis besok sabtu mau temenin Diana ke Harvest nggak, pengen makan eskrim coklat disana?”,
merajuk manja. Lagi lagi, Denis tersenyum, mencubit hidung Diana sekali lagi, sedikit lebih lama, hingga hidung itu berubah menjadi cerry merah. Makin cembetut, Deni hanya mengangguk, senyum Diana mengembang. Gadis itu mengeratkan rangkulannya, membuat Denis sulit benafas, meringis kesakitan.
"Uf, kuat juga tenaga bocah ini",
Kecupan kecil mendarat di pipi Denis sebelum akhirnya gadis itu menggeloyor girang. Meninggalkan Denis yang masih gemas pada adiknya, sembari mengelus elus lehernya yang serasa habis tercekik oleh pelukan Diana. Kemabli pada laptopnya yang masih menyala, Denis melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Terfokus pada angka angka dan baris tabel tabel, sesekali dahinya mengeryit lalu membetulkan beberapa angka yang salah.
Jenuh, Denis bangkit dari duduknya, masih tersenyum kecil. Berjalan keluar kamar menuju beranda, merefresh kembali matanya yang sudah tamapak lelah, jauh ia menatap, pada kerumunan lampu yang berpendar pendar di tengah gelap. Membuang nafas lega, matanya terpejam, menikmati dinginnya semilir angin malam, sangat lama. Masih pada posisi itu, deru nafasnya terdengar perlahan, “Bunda sampai saat ini, aku percaya kekuatan itu akan selalu ada. Karena dengan mengingat semua senyummu aku menjadi lebih kuat.” Terdengar sangat lirih. Saat membuka mata bulir bulir bening itu menerobos keluar. Tak mengerti, akhir akhir ini air mata itu mudah sekali keluar. Denis tertegun. Membuang nafas berat lalu masuk ke kamarnya. Melempar tubuhnya ke ranjang. Tengkurap.
#. Jeany mendorong pintu masuk, hawa dingin langsung menyergapnya. Hem, tempat ini begitu menyenangkan, terasa damai dan sejuk, bangku bangku tunggu terbuat dari kayu utuh, hanya di cat dan di buat senyaman mungkin, terasa begitu alami. Tempat yang cukup lengang, gadis manis itu mencari tempat favoritnya, di pojokan. Kosong, Jeany tersenyum menghampiri tempat kosong itu, langkah yang lincah mencipta irama derap yang riang. Disinilah tempatnya bersemedi di akhir pekan, surganya eskrim dan cake, hem tak sabar ia memesan eskrim kesukaannya. Duduk manis menunggu pramusaji datang menawarkan pesanan. Sambil menunggu, Jeany mengeluarkan buku, pensil, dan beberapa peralatan menggambar lainnya, gadis manis itu sudah bersiap dengan guratan guratan manganya.
“Huft…”.
Membuang nafas, mencoba menghadirkan isi kepalanya, garis garis mulai tergores di kertas putih. Entah, kali ini apa yang akan tercipta dari jemari mahirnya, sudah begitu banyak tokoh yang tercipta, ide sederhana, tak rumit.
Hanya mengggambarkan apa yang pernah ia lihat, apa yang ia alami, terkadang gadis itu iseng menjadikan tukang bakso di kantin sekolahnya sebagai obyek, atau para pramusaji di tempat ini, menurutnya karakter mereka sangat mudah untuk di rubah jadi manga. Jeany menghentikan aktifitasnya, entah apa yang membuatnya berhenti, gadis manis itu menggigit ujung pensilnya. Jorok.
Menatap lurus kedepan. Kosong. Tatapan tak berisi.
“Pesanannya nona?”.
Tesentak, lamunan ksongnya buyar. Tersenyum malu pada pramusaji tampan yang menatapnya geli. Setelah, meletakan semua pesanan pramusaji tampan itu pamit, pergi meninggalkan Jeany yang masih malu, bermuka merah. Tak bertahan lama, gadis itu terfokus pada segelas eskrim coklat, meleleh menggoda. Hem, sungguh semuanya terlupakan. Pramusaji itu juga guratan manganya yang belum terselesaikan, entah sosok apa yang tengah ia gambar. Gadis itu sibuk menyendoki, eskrim dari gelas, memasukannya kemulut dengan hati hati, sesekali meringis, menahan ngilu karena dinginnya eskrim, lalu tersenyum.
Tanpa permisi, seorang duduk dihadapannya. Jeany mendongak memastikan apa yang ia rasakan. Deg, hampir tersedak, pria itu lagi, pria dengan tatapan sedingin eskrim, duduk dengan senyum tipis memandangi Jeany yang tengah asyik dengan eskrim coklatnya. Gugup, bingung, malah jadi salah tingkah, mencoba merapikan apa yang sudah terlihat rapi. Pria tanpa kata itu tersenyum melihat tingkah Jeany, entah apa yang ada di pikirannya, tangannya tanpa permisi mengusap usap, kepala Jeany, gadis itu jadi makin salah tingkah, mencoba menghindar, menarik kepalanya mundur.
“Sudah, habiskan eskrim mu, mau tambah?”.
Akhirnya suara itu keluar juga, suara khas, tampak sedikit serak tapi sangat berwibawa,
“Maaf, mengganggu”.
Satu kalimat pendek keluar lagi dari mulutnya, pendek dan singkat. Jeany bingung harus berkata apa, gadis jadi banyak terdiam. Dalam hati bahagia, rasa tentram yang dibawa pria bermata dingin itu hadir lagi, mulutnya jadi kaku, menunduk malu, persis seekor kucing yang ketakutan, tampak lucu dan menggemaskan.
Setelah kalimat terakhir itu sampai sekarang belum ada suara lagi. Beku, benar benar kaku, pria aneh itu, tampak memesan sesuatu, tanpa berkata, dan sepertinya pramusaji disini sudah begitu hapal dengan pria aneh ini, tapi kenapa Jeany tak pernah melihatnya disini sebelumnya. Aduh, Jeany jadi memikirkan banyak hal tentang pria yang tak dikenalnya itu.
Lamat lamat, gadis itu memperhatikan dengan seksama, guratan wajahnya, semuanya. Tapi tak ia temuakan wajah itu selain di tempat ia biasa menungggu pak Jon yang telat menjemputnya. Menyerah, Jeany memilih menghabiskan eskrim coklatnya yang sudah meleleh, seperti hatinya yang tengah leleh menatap pria yang secara diam diam mulai ia kagumi.
Habis, tanpa ia sadari, sedok terakhir yang masuk ke mulutnya kosong. Pria yang duduk tenang dihadapanya tersenyum kecil, menyodorkan segelas eskrim lagi pada Jeany.
“Terima…”.
Belum selesai berucap ternyata suara keduanya beradu, lalu saling terdiam. Lama.
“Ehm,..”,
Berdehem meski tak terjadi apa apa pada tenggorokannya.
“Maaf kak, sebenarnya kakak ini siapa?”.
Sedikit bergetar bibir mungil itu berucap. Lebih berani.
“Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena sering tanpa ijin mengganggu kamu”.
Muka Jeany berubah merah.
“Sebenarnya Jeany tidak terganggu kok, Jeany sangat berterima kasih karena kakak mau menemani Jeany…”.
Tercekat, kalimat itu begitu saja mengalir tanpa permisi dari mulut Jeany.
“Owh, sebenarnya aku juga sedang menunggu seseorang, jadi lebih baik aku menunggu bersama mu dari pada bosan sendirian, bukankah ada teman itu lebih menyenangkan?”.
Mengedipkan mata dan tersenyum, tatapan dingin itu sedikit menghangat.
Kembali diam, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, hanya sedok yang berdenting beradu dengan gelas. Masih diam, tanpa bertukar nama, percakapan singkat tadi belum menghasilkan perkenalan, pertanyaan Jeany juga hanya mendapat senyum tipis. Sedikit sebal sih, tapi entah rasa sebal itu menghilang begitu saja saat menatap mata pria yang ada dihadapannya, meski tampak terkesan dingin, tapi ada sesuatu yang tersimpan di balik mata itu. Jeany tak begitu mengerti, yang ia tahu tatapan itu membuatnya damai.
Diam diam pria itu memperhatikan sebuah guratan yang tanpa sengaja tersingkap. Seketsa pria bermata dingin dan seorang gadis manis yang tengah berjongkok menikmati corn eskrim. Dia tersenyum, dan kembali terdiam.
Gelas kedua sudah habis, perut Jeany serasa penuh, guratan yang tenga ia gambar tak jadi dilanjutkan, memasukkan semua perlengkapannya kedalam tas. Pria aneh itu masih duduk dengan eskrim yang masih separuh gelas, Jeany bangkit sepertinya waktu semedinya sudah cukup, lagi pula ada sesuatu yang membuat acaranya sedikit berantakan, Jeany pamit.
Pria itu tersenyum. Sesampainya di kasir pembayaran gadis itu tampak bingung, mencari cari, menggeledah tas besarnya, namun tak ia temukan juga, meraba raba seluruh kantong di bajunya, tak juga ada hasilnya. Gawat, kemana lembaran uang yang telah ia siapkan tadi. Pria yang tengah sibuk dengan gelas eskrimnya itu mengalihkan perhatiannya pada pada tingkah Jeany yang tengah kebingungan mencari cari uang di semua kantong dan tas besarnya. Berdiri menghampiri, gadis itu.
“Ada apa mbak?”.
Bertanya pada kasir yang tengah menunggu uang dari Jeany,
“Gini mas Denis, adek ini kehilangan uang nya!”.
Jeany yang masih bingung tiba tiba menghentikan pencariannya mendengar kasir menyebut nama pria dinging yang berdiri di sampingnya. Denis tersenyum, mengeluarkan dompetnya.
“Sudahlah, biar aku saja yang bayar”.
Tersenyum pada Jeany yang tampak lugu. “
Tapi,…”.
Kalimat itu tak jadi di teruskan Denis sudah menariknya kembali duduk dimeja yang tadi,
“Sudah, duduk sini saja dulu nanti kuatar pulang, bukankah uang mu juga tidak ada, mau bayar kendaraan pake apa nanti?”.
Jeany ingin beralasan bisa di jemput pak Joni tapi urung ponselnya juga tidak ada. Sial, jadi deh dia menemani kakak misterius yang namanya tak sengaja ia ketahui dari penjaga kasir itu. Baiklah, setidaknya kini Jeany tahu nama pria dingin yang sering menemani jadwal tunngunya dan membawakan eskrim coklat.
“De nis..”
Desis Jeany sangat pelan mengeja nama pria yang tengah duduk santai menikmati eskrimnya. Tersenyum kecil, kakinya di atuk atukkan ke lantai, tangannya terajut rapi diatas tas besar yang dipangkunya, sesekali diremat remat, begitulah Jeany jika tengah bosan.
Denis yang memperhatikan tingkah bocah labil di depannya tersenyum kecil, seperti mengerti apa yang tengah dirasakan Jeany, Denis menyudahi makan eskrimnya, berdiri mengajak gadis lugu itu pulang. Benar benar mengemaskan, Denis tak henti hentinya menyimpulkan senyum diam diam. Melampiaskan rasa gemasnya dengan mengacak acak rambut Jeany tanpa permisi, Terdengar sedikit tawa yang pecah saat Jeany menghindari tangan Deinis yang mengacak acak rambutnya. Huft. Bibirnya berubah manyun. Denis makin tersenyum lebar melihat Jeany yang manyun.
#. Jeany masih belum tidur, tersenyum senyum malu, ah siang tadi selalu teringat.
“DE- NIS.”.
Mengeja nama pria eskrim itu, lalu tersenyum lagi. Duduk manis di depan meja belajar, hanya duduk tak melakukan apa pun. Kertas yang biasanya menjadi obyek pelampiasan pikiran masih bersih, pensil itu juga tergeletak begitu saja. Tak biasanya, mungkin pikirannya terlalu sibuk mengej- eja nama kakak eskrim yang namanya tak sengaja ia ketahui dari kasir. Sudah berapa kali nama itu keluar dari mulutnya dan selalu diakhiri dengan senyum malu. Lucu, menggemaskan, mungkin lebih tepatnya lugu.
Bingung, menatap kertas kosong, jemari manis itu mulai menggurat gurat, kini bukan sosok tokoh manga, sebuah ruangan dengan bangku bangku tugu terbuat dari kayu utuh, tertata rapi, pintu kaca yang bersih dari debu, satu satu ia menambahkan pernak pernik di ruangan itu, juga beberapa tanaman hias.
Ah, tunggu dulu, jemari itu mulai menggurat sebuak sketsa, seorang gadis. Duduk manis di pojokan, menatap lurus, di atas meja itu ada sebuah gelas. Sampai disini, Jeany terdiam. Masih tersenyum, memandangi sketsa yang telah dibuatnya. Terasa begitu damai dan menyenangkan. Guratan guratn sederhana itu tampak begitu hidup, sehidup perasaannya yang tengah bahagia.
Terbayang lagi, senyum pria eskrim itu, tak lagi sedingin dulu, tampaknya sudah mulai meleleh. Mirip eskrim coklatnya yang meluber karena tak segera dimakan. Pukul 10:00, sudah begitu sepi, mereka sudah lelah, aktifitas hari ini cukup menyita tenaga. Beristirahat, memulihkan tenaga, berharap esok dating lebih baik. Juga seperti harapan Jeany, berharap kedatangan pria eskrim itu, menemani nya kembali menunggu bersama, ya begitulah yang di ketahui Jeany.
“Bukankah ada teman itu lebih menyenangkan?”.
Kalimat itu masih saja terngiang di telinga Jeany. Teman?, menunggu bersama?. Jeany tersenyum kecil, simpul itu masih terukir jelas. Jeany jadi banyak tersenyum. Bahagia.
“Te-man..”.
Ejanya sebelum benar benar terpejam. Kertas bergambar tokoh manga telepas dari genggamannya. Muka itu masih mengukir senyum manis.
#. Taman bermain ini tampak lengang, Denis duduk di sebuah ayuan, berdeci decit, maju mundur. Mendongakkan kepala, lagi- lagi pria bermata dingin itu menatap pasi, meski begitu wajah itu tetap tampak tampan. Gurat beku itu masih tersemat jelas, memikirkan sesuatu, mulutnya berkomat- kamit. Sepertinya sedang menyebut nyebut sesuatu, lamat- lamat suara lirihnya terdengar. Ah, kebiasaan itu, menghitung perkalian secara mundur. Jelas sudah, Denis sedang gelisah, tak bisa tidur. Meski malam sudah selarut ini.
“Puuhh…”.
Mengembungkan kedua pipinya lalu membuang nafas, kakinya menggurat- gurat di tanah pasir. Sementara mulut itu masih sibuk dengan kegiatannya. Menghitung dan menghitung. Selain di beranda kamarnya tempat ini adalah tempat dimana Denis sering bersemedi, memikirkan banyak hal. Tentang hidup, juga soal pekerjaannya.
Tempat yang sepi, angin malam yang berhembus semilir, juga ayunan tua yang sering tengah ia duduki, menggoyang- goyangkannya maj mundur. Tiba- tiba mulut itu menghentikan aktifitasnya. Tersenyum tipis, wajah lugu milik Jeany teringat lagi.
"Uf"
gadis itu. Mengapa terasa begitu menggemaskan saat menatap seluruh gerak geriknya. Denis jadi sering tersenyum sendiri ketika bayangan wajah gadis itu muncul, melintas di benaknya. Teringat lagi seketsa manis hasil guratan tangan Jeany yang tak sengaja ia lihat. Lalu tersenyum lebih lebar. Tempat menunggu itu. Denis terdiam. Menghentikan gerakan ayunan yang didudukinya. Mendorongnya mundur, dan terhempas kedepan. Sangat kencang. Ayunan itu bergerak maju mundur lebih kencang, mencipta deru membelah udara. Sesekali Denis menatap langit yang begitu gelap, tak ada satupun bebintang yang mengerlingkan mata, atau tersenyum mesra. Sangat gelap. Ayunan itu berhenti, melirik jam. Pukul satu dini hari.
“haahhh…”.
Membuka mulut lebar, membuang nafas lagi. Mengusap- usap kedua lengannya. Kedinginan. Denis merapatkan jaket tebal yang ia kenakan. Berdiri, lalu berjalan pergi. Ayunan itu masih bergerak, berdecit decit lagi. Meraih sebatang rokok, menyulutnya, seketika asap mengepul keluar dari mulut dan hidungnya. Pria bermata dingin itu melangkah gontai, menunduk memandang tanah yang ia pijak. Kedua tangannya ia masukan kedalam kantong jaket, sementara rook masih terselip di kedua bibirnya. Sesekali tangannya keluar dari saku jaket, menjepit batang rokok menghisap, lalu meniupkan asapnya keluar. Menyusuri malam sepi, sendiri.
“Huft, Diana ku harap aku masih bisa memaafkan diriku yang gagal menjagamu dengan baik”.
Sebuah kalimat penyesalan yang begitu sering keluar dari mulutnya. Denis berhenti melangkah, mendongakkan kepala, membuang lagi nafas beratnya, beserta asap rokok yang masih mengepul- kepul. Jemarinya meraih batang rokok yang sudah hamper habis, menghisap untuk terakhir kalinya dan melemparnya jauh- jauh. Memasukkan lagi tangannya kesaku jaket, sedikit menggigil, udara mala mini begitu terasa lebih dingin. Dari dalam saku tangan itu bergerak gerak, menemukan sesuatu. Uang kah?, menggeleng dan tersenyum. Mengamati kembali kertas kecil itu. Kupon eskrim, mencoba mengingat, senyum itu berubah raut bingung. “arghh..”. teriakan itu terasa berat dan serak. “Diana….”.
kini suara itu berubah sendu. Lirih yang berat.

Comments
Post a Comment