Insident #1
Sebuah stadion besar, penuh sesak, orang orang ramai riuh. menyaksikan seorang pria berdiri tegak diatas podium, raut mukanya mulai menua terlihat dari lipatan lipatan kerut yang tergambar jelas di wajahnya, namun sangat jelas terlihat disana masih ada bekas bekas keperkasaan, tegap tubuhnya tak bisa menghilangkan bagaimana perjuangannya dulu di barisan militer membela 'Negara' .
Matanya seakan menyala nyala, suaranya masih lantang berpidato didepan pendukungnya.
"Bumi pertiwi harus bangkit, kita bisa berdiri tegak diatas kaki kita sendiri. Jangan biarkan sang pertiwi terinjak injak dimata asing, kitalah macan asia yang harusnya disegani. Kita bangsa yang besar, kita bisa menang".
Kalimat itu terhenti, semua mata memandang keatas podium, dan menjerit histeris saat pahlawan mereka tiba- tiba limbung.
Semua orang panik, mereka berlarian menghambur, semua cemas, takut, ada serangan tak terduga entah dari arah mana.
Pasukan pengamanan siaga, sebuah tembakan berhasil menembus sang calon presinden dari kubu Garuda Emas.
"Ibu iku bu, Pak Prabu diserang bu".
Triak Tito, pada emaknya yang sedang memasak di dapur, ibu ibu paruh baya itu segera berlari menuju layar kaca, menyaksikan berita yang begitu menggemparkan.
"Ya Allah kok tego temen tho, oh yo le kabare kakang mu piye, telpunen jare mau melu kampanye....".
"ndang cepet bell en kakang mu, ibu kuatir ono opo opo"
Ibu itu cukup panik, begitu khawatir, cemas dengan keadaan anak laki lakinya, tadi pagi sempat berpamitan ikut kampanye di stadion.
"wes nyambung durung le,.."
Kecemasan itu tak bisa disembunyikan lagi, seakan terseret mundur beberapa tahun silam, putra pertamanya hilang entah kemana, kerusuhan enam belas tahun itu masih menyisakan sebuah kepedihan, kehilangan seorang putra tanpa kabar, tak tahu rimbanya.
"Assalamualaikum, hallo mas?, Iki ibu pengen ngomong!"
Tito menyerahakan poselnya pada Ibu.
"Waalaikum salam bu, aku baik baik saja kok, alhamdulillah semua sudah aman, pak polisi juga sudah mencari tahu pelakunya"
"Ya syukurlah, cepet pulang, ati ati dijalan, jangan ngebut. Ibu sudah masakin soto ayam kesukaanmu".
Sambungan terputus, Ibu kembali ke dapur dan menyerahkan ponsel pada Tito.
"Belum diketahui motif penembakan polisi masih mencari tahu siapa pelaku penembakan tersebut...."
Bersambung....

Comments
Post a Comment