Oil Water
"Cukup.., aku bukan boneka mu".
Joe membanting pintu. bergegas pergi, Raya berlari meraih tangan Joe. Mendekap tubuhnya dari arah belakang.
Joe mematung, termenung, ada rasa perih mengganjal mengingat ucapannya tadi.
Joe kesal, namun ada bimbang merasuki hatinya.
Raya tak melepas peluknya dari tubuh Joe.
Bahkan semakin erat. Dan Joe gusar. Seperti gerimis yang turun.
Joe melepaskan dekapan Raya.
Membalik badannya, memeluk tubuh Raya, begitu erat namun, masih ada yang mengganjal dihatinya.
"Joe, maafkan aku, ini bukan maksudku. aku hanya..."
Suara Raya terputus oleh isak tangisnya yang tak tertahan. Dan Joe masih terdiam, menulusuri luka dihatinya yang msih terasa perih.
"Ray....."
Suara Joe terasa begitu berat.
"Aku.. hanya ingin. kita sejalan, melengkapi kekurangan tapi, apa yang kamu tunjukkan sudah berbeda, Kamu bukan Raya yang dulu. Dan aku masih tak percaya dengan...."
Bibir Joe bergetar. Terbayang apa yang kemarin Raya lakukan, Joe tak bisa memungkiri apa yang ia lihat, itu bukan ketidak sengajaan, ada cinta disana ada pengkhianatan menyemai luka di hatinya.
"Maafkan aku. Joe aku tak bermaksud berkhianat, aku tak bermaksud menyakiti mu"
Dalam isak Raya memohon. Mereka saling memeluk erat.
Di antara derai gerimis ada sosok pria menunduk lesu, harapannya pudar. Ia pergi berlalu. Membuang bunga edelweis dan cicin ketanah.
"Ray..., aku tak lagi memiliki mu seperti edelweis. aku minyak, kau air, aku pungguk kau sang rembulan"
Ujar Andre meninggalkan Joe dan Raya yang hanyut dalam peluk dan derai gerimis.

Comments
Post a Comment