Kepadamu Yang Menunggu Keajaiban
"Merasa nyaman karena tidak pernah bersingungan dengan konflik, atau
malah tak acuh pada keadaan diri, bebalnya hati harusnya dilunakkan, bukan
dibiarkan membatu lalu mati."
Apa Kau Masih Terlelap?
Sudah saatnya bagi kita untuk membuka mata, meneliti diri, bahwa tak
semua yang membuat kita nyaman adalah hal yang patut untuk dipertahankan, entah
itu bisa saja berdampak buruk bagi diri atau orang orang di sekitar kita. Tentu
saja pandangan baik buruk yang kita sandarkan adalah pola yang sudah ditentukan
oleh Allah pada mahluknya. Tidak bisa dielak lagi karena kita hanyalah kerdil yang tak memiliki kuasa apa pun dibawah
naungan rahmat Nya yang besar.
Acap kali terperbudak oleh imaji tentang hasrat duniawi membuat Tuhan
terlupakan dari daftar prioritas kehidupan. Terlalu lama dinina bobokan oleh
alunan menentramkan menjadikan kita semakin lupa diri, tak pernah lagi membuka
mata dan menyaksikan bahwa ada yang salah dengan tatanan hidup yang tengah
dijalani.
Mengapa Kamu Bersikeras?
Tanyakan pada hatimu tidakkah ia gelisah? “Mintalah nasehat pada
hatimu” Karena ia tahu, Selembut apapun itu, sehalus apa pun keburukan dibungkuss
tetaplah sebuah goncangan yang berdampak pada kejiwaan, karena jiwa dan hati
murni sejatinya sadar dan tahu kemana tubuh ini akan diperintah. Apa yang
membuatmu begitu membatu, atau malah hatimu telah kau bunuh perlahan saait ia
terlelap?
وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ،
وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Hati yang murni adalah tempat paling jujur untuk bertanya, kegeliahan
kecil saja bias jadi pertanda ada kesalahan tatacara menjalani kehidupan.
Terlebih lagi jika mata manusia yang bersih hatinya mengetahui keburukan yang
bercokol kuat pada diri ini, kebencian akan semakin dalam tertanam da sesak
menyempitkan ruas hati kita yang sudah terlalu kecil.
Bukan Soal Pujian, Tapi Tanggung Jawab.
Memanglah benar, mengikuti hasrat pandagan orang bukanlah hal yang baik,
karena bias saja pandangan manusia jauh dari apa yang dimaksudkan Tuhan pada
kita. Karena ada tanggung jawab atas kehidupan yang sedang dijalani, itu janji,
yang telah terpatri sebelum kaki lemah ini menjejakkan ke bumi, sebelum udara
dapat kita hirup dengan mudahnya. Menjadi manusia artinya menjadi hamba yang
patuh atas segala perintah Tuhan. Tugas ini sudah kita emban semenjak terpilih
sebagai manusia sekaligus hambanya.
وَما خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعبُدونِ
Karena setiap gerak langkah ini
tercatat, dan semua tentang hembusan nafas akan dipertanyakan, lalu sudahkah
kita siap menghadap jika diri ini selalunya mengelak dari tugas dan memilih itu
terjebak dalam imaji duniawi?
Tuhan Menyerahkannya Padamu
Apa lagi yang kita tunggu? Hanya menunggu tidak memberikan kita sesuatu
melainkan hanya membuang buang waktu. Karena ajal tidak dapat ditebak waktunya,
namun pasti kedatangannya maka kitalah yang harus bergerak dan mengarahkan hati
ini untuk melangkah dan berhijrah. Membuka mata lebar lebar memperbaiki apa
yang mungkin saja tidak sesuai dengan perintah tuhan. Bahkan Tuhan pun tidak
akan berbuat apa apa jika kita hanya diam saja. Diri kitalah yang bertanggung
jawab atas badan sendiri, karena menunggu sudah bukan lagi hal yang patut
dipertahankan, dan sejatinya apa yang kita tunggu tidak akan benar benar datang
jika kaki tidak bergerak untuk mengejar. Tuhan memang punya rencana tapi kita
tak bisa hanya menunggu tanpa berencana.
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Mulailah dari yang sepele
Untukmu yang mendambaka perubahan, mengawali dari hal terkecil dalam hidup
dan kebiasaan kecil akan membawa pada perubahan besar. Karena semua berawal
dari hal yang sering diaggap remeh, bukankah sedikit demi sedikit lama lama
menjadi bukit. Membiasakan diri mengahargai waktu meski hanya satu menit. Menjaga
mulut agar tidak mengumpat meski sudah dianggap biasa. Menjaga tangan tidak
usil meski adalah keaskian tersendiri. Bukankah bila kita memulai dan
membiasakan diri perubahan akan terasa mudah dan menyenangkan?
Tak Perlu Tergesa.
Ini bukan tentang kompetisi, meski bersegera adalah bagian dari kebaikan,
tapi tergesa adalah bujukan setan. Ini soal proses, bergerak sedikit demi
sedikit, Berhijrah bukan hanya butuh keberanian melainkan perlu pula ritme yang
teratur. Perubahan tergesa bias jadi memberikan effect shock dan
ketidaknyamanan yang dipaksakan. Karena kita hanya memikirkan target yang
ternyata ada pada mata manusia bukan kepada tuhan yang mahaesa. Alon alon
waton kelakon, perlahan namun pasti. Karena ini tentang proses maka
nikmatilah perubahan mu setahap setahap. Setiap jengkalnya akan memiliki hikmah
luar biasa yang mungkin tidak dapat kita rasakan jika hanya terburu dan
tergesa.
Apa kabar, apa kau sudah lelah?
Bersemangatlah meskipun kebosanan akan tetap ada di sela langkah, rasa
malas akan muncul saat akan memulai pertarungan, apa tenagamu terasa sudah
habis. Bagaimana berat dan sakitnya ujian hijrah, semua membuat perjuangan kita
semakin berat dan mendorong kita untuk berhenti saja. Sebab konsisten tidak
seperti membalik telapak tangan, mungkin saja perlu lebih banyak peluh untuk
diperas, airmata untuk dikuras atau bahkan darah harus tertumpah.
Adalah hal wajar jika rasa lelah itu datang, karena kita adalah manusia dan
punya batas. Namun keyakinan akan masa depan lebih cerah entah di dunia ataupun
di akhirat akan memberikan kita sedikit tenagan untuk bertahan. Karena tak
hanya kita yang merasakan sakit atas perjuangan.
وَلا تَهِنوا فِي ابتِغاءِ القَومِ ۖ إِن تَكونوا تَألَمونَ
فَإِنَّهُم يَألَمونَ كَما تَألَمونَ ۖ وَتَرجونَ مِنَ اللَّهِ ما لا يَرجونَ ۗ
وَكانَ اللَّهُ عَليمًا حَكيمًا
Kepadamu yang mendambakan perubahan, yakinlah kebaikan yang kita
kerjakan akan tetap membuahkan hasil meski harus terseok dan berdarah darah.
Mari berhijrah.








Comments
Post a Comment