Quarted : Mungkin Takdir




PRANA
Berdiri di antara deretan buku buku membuatku serasa di surga, ah aku terlalu berlebihan, tapi memang inilah satu satunya aktifitas yang membuatku bisa melepas lelah, memandangi satu satu rak rak rapi dengan deretan buku ber cover warna warni, sesekali tanganku meraih buku buku yang menarik hati. membaca sederet kalimat di sampul belakang, sungging senyumku merekah, membuat kepalaku manggut manggut lalu berdecak, mungkin tertarik atau bisa juga terhipnotis, aku tak begitu mengerti bagaimana menjelaskan perasaan ini, seperti seorang pria gagah yang terpaku pada gadis impian. Seurus kemudian melongo, bukan bukan karena kalimat kalimat indah yang terurai di balik sampul warna ungu ini. Malu rasanya untuk bercerita. Kuraba raba kantongku.
"Ah mungkin bulan depan aku harus kesini lagi membawa bekal cukup untuk meminangnya".
terkekeh malu pada diri sendiri, urung dan buku bersampul ungu itu kembali pada tempatnya semula. mungkin ada buku lain yang ramah kantong dan bisa membuatku berdecak lagi, ya pasti ada dari sekian ribu eksemplar buku yang terpampang di sini pasti ada dan semua punya kualitas masing masing.
Mungkin ini kebiasaan burukku, entah kenapa jika aku hanyut dalam pikiran jempol tanganku selalu jadi korban keisengan mulutku, sembari menengok kanan dan kiri, ah aku jadi ingat lagu pohon cemara
"Kiri kanan kulihat saja banyak buku bukunya....."
aku terkekeh pada senandung ku, ah semoga saja tak ada yang mendengar dan memperhatikanku. Lagi pula deretan buku buku ini lebih menarik perhatian dari pada aku, si pria cupu dengan kaca mata, berambut keriting sedikit berantakan. Hey, bukankah penampilanku terlalu mencolok dan pantas untuk jadi tontonan publik? kupandagin baju dan celana ku. yah meski terlihat rapi, tapi ini sama sekali tidak terlihat fashionable, bukan! Bukan aku tak mau membeli dan bergaya dengan tren terkini hanya saja aku lebih tertarik pada buku buku. Kutu buku? ah tidak juga aku tak cukup pantas untuk mendapat gelar itu, karena dari sekian buku yang aku beli hanya 20% saja yang sudah aku baca, sisanya mungkin lebih pantas disebut hiasan kamar.
Terkekeh lagi, ternyata aku sekejam itu. Yah itu terjadi karena aku tersihir begitu saja oleh buku buku, apa lagi jika susunan kalimatnya indah, itu seperti mantra mantra pelet yang menyihirku untuk membelinya, apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya, meski harus menunggu beberapa hari sampai uang yang ku sisihkan cukup untuk meminangnya.
Ah sudah berapa lama aku berpetualang disini? meicingkan mata menatap layar ponsel, lalu sesungging senyum merekah lagi. Aku mematung lagi, di deretan novel novel romantis.
Aku terkesiap, apa ini takdir? tampa sengaja ada tangan lembut nan halus bertemu dengan jemari jemariku saat menelusuri deretan novel novel itu. segera kutarik kembali tanganku, lalu mata kami saling beradu, lalu apa lagi selain senyum kami yang berpadu. Entah ini apa, deretan novel novel romantis itu telah teralihkan, pada sosok manis berwaah oriental, lesung pipi juga gigi gingsul yang menyempil di deretan gigi putihnya. Ah duniaku teralihkan, tak satupun kata terucap baik dari mulutku, ataupun mulut manisnya. Buru buru aku palingkan muka ku yang mulai memerah, ah malunya jika sampai ketahuan aku tersipu melihat wajahnya.
"Wah mas suka novel ini juga ya?"
Mungkin ini sangat klise, tapi pertanyaan itu cukup membuat ku gugup, ah rasanya sulit sekali hanya untuk membuka mulut dan berkata "Ya". Pada akhirnya aku hanya mengangguk lalu menunduk,
"Kalau begitu mas aja yang ambil kayanya mas duluan yang nemu"
Ah ku angkat kepalaku, dan jantung ternyata tak begitu siap untuk melihat senyumnya untuk kedua kali, cukup kencang sampai sampai terasa begitu berisik dan mengganggu ku.
"Ah saya cari yang lain saja kebetulan, yang seri pertama belum sempat aku baca"
Kalimat itu keluar meski terbata dan patah patah.
"Please jangan tersenyum lagi,aku takk uat, rasanya seperti tercekat" doaku dalam hati, dan sama sekali tak berguna, ia tetap saja denagn entengnya tersenyum begitu ramah, mengambil novel itu sebelum berlalu meninggal kanku,
"Mbak?"
Setan apa yang merasuki ku, kalimat itu keluar dengan gagah, berhasil membuat gadis manis itu kembali menoleh dan tersenyum ke arahku. Dahinya berkerut, tanpa berkata seoalh dia sedang bertanya kepadaku. Lama aku terdiam dan kami pun terjebak di keheningan masing masing.
"Boleh tahu nama mbak siapa?'
Bodoh, bodoh, kebodohan apa yang kamu pikirkan pra, seberani itu menanyakan nama, mana mungkin dia akan memberitahukan namanya pada pria aneh sepertiku, kebetulkan letak kaca mataku yang sedikit melorot karena aku masih menunduk.
"Devia Lovara panggil saja aku Dee"
Ujarnya tiba tiba mengulurkan tangan pada ku, ini benar benar membuatku tercekat, aku bingung harus berbuat apa tapi tangan di depan yang ramah itu tak boleh di biarkan begitu saja. Sedikit bergetar aku menyalami gadis itu.
"Aku Pra na"
Benar benar bodoh, apa yang barusan aku lakukan.
"Salam kenal mas Pra, btw beneran nih ga mau ambil bukunya?"
Aku tetap menggeleng, membetulkan lagi letak kaca mataku. Dan senyum itu kembali merekah menyambutku hangat.
Dee berlalu pergi tanpa beban, meninggalkanku sendiri tersiksa oleh semua keramahannya. Dee begitu dia mengenalkan dirinya, dari takdir pertemuan ini aku mulai sadar, bahwa aku tak lagi bisa sendiri. Keasyikanku dengan dunia ku sendiri harus ku akhiri. Dan Dee adalah jawaban dari semua kesendirianku. Devia Lovara kau telah menawan hatiku.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2