Quarted : Secret Admirer





Kanu Dewista

Stop, dasar. Betapa bodohnya aku, benar aku hanya bisa menapak dan berdiri di sini, selangkah lebih jauh akan membuat aku terjebak pada keadaan yang semakin buruk. Mungkin ini memang sudah jadi takdirku untuk tetap berdiri di jarak yang tak terjangkau, memandangi wajah tampannya dari jarak ini saja sudah cukup membuat benda dalam dadaku berdetak detak berisik, ini bukan berarti aku tak berani mendekat, hanya saja aku tak ingin memmbuatnya canggung. Ah tidak buka dia yang akan canggung di hadapanku, tapi aku yang mungkin sulit mengendalikan perasaanku melihat dirinya dengan gaya termanis yang pernah kulihat. yah mungkin ini takdir. 

Ah sebal rasanya,
Mataku tak berhenti memandangi pria yang tengah mematung pada deretan buku buku dengan cover warna warni. yah aku sedang melakukan hal bodoh, mengikutinya diam diam dari sudut yang tak terjangkau pandangnya, mungkin ini sedikit aneh tapi aku merasakan sesansi yang berbeda jika terus mengingat dirinya, pria tinggi rambut keriting, si mata empat yang sangat jatuh cinta pada buku buku. Darinya aku juga mulai melirik dunia menyenangkan ini, dunia membaca yang kini menghipnotisku. Lalu kutambahkan dalam daftar hoby ku, sejajar dengan olah raga dan berkeringat.
Obsesi ini cukup menyiksa batinku, aku benar benar telak, tapi takdirku yang terjebak pada tubuh gadis tak memungkinkan ku untuk memulai, rasa nya aga aneh jika aku harus mengungkap kumpulan rasa yang telah tertumpuk tinggi dalam hatiku. Yah, memang jika dicoba tak ada salahnya toh banyak juga gadis gadis sekitar ku yang mengutarakan rasanya pada orang yang mereka suka. Bukan, bukan aku tak mempunyai keberanian itu, aku bisa saja melakukannya, tapi aku tidak terlalu yakin dia akan merespon seperti harapanku. Ah apa ini termasuk salah satu ketakutan yang menyita ruang keberanianku. 

Musik masih berdengung dengung dari headphone yang menempel di telingaku, sementara mataku masih memburu pria di ujung sana, tepat sedang tersenyum senyum memandagi buku bersampul ungu, membolak baliknya, tamapk terlihat serius sekali aku tahu, pasti ia edang terhipnotis oleh rangkaian kata kata dalam cover itu. Matanya memicing, lalu tersenyum sebelum mengembalikan buku itu pada deretan rak yang berjajar, mataku juga sempat menangkap tangannya yang meraba raba saku, aku terenyum geli dibuatnya, mungkin ia sedang berpikir untuk menunda membeli buku itu, lalu kembali ke sini bulan beberapa hari lagi. 

Ah andai saja aku bisa lebih dekat dari ini, akan kubantu ia memiliki buku itu, tapi rasanya tidak pantas bagiku, lagi pula pasti dia akan menolak dan itu akan membuatnya semakin malu, ah aku tak ingin itu membuat jarakku dengannya semakin jauh. Betapa tersiksanya aku membayangkan itu terjadi.
Aku sendiri kadang mempertanyakan apa yang kulakukan ini sudah benar? apa yang membuatku begitu tertarik padanya? Pria diujung sana mungkin akan sanagt jauh dari type sempurna.

“Pria ya?”

Kugigit bibirku yang tak bersalah, ah iya mengingat dia bukan lagi bocah lucu dan menggemaskan itu. Ia sudah tubuh dewasa dan menjadi seorang pria. Terbanyang lagi tentang aku dan dia dulu, terseret mundur pada waktu yang terkubur. Aku tersenyum, bocah mungil yang terpaut dua tahun lebih muda dariku itu mendekap lututnya, matanya telah membanjir, isak sesengukan menahan perih. Tangannya memeluk kedua lutut erat, kaca mata mungilnya terlihat melorot. 

“Dasar Prana cengeng”

Ledekku pada bocah dengan pipi tembem yang menggemaskan. Tanpa di minta aku berjongkok di depannya, meraih kedua tangan lalu ku kalungkan di leherku. Isaknya masih sesenggukan, entah sudah berapa kali aku melakukan hal ini, menggendongnya pula ketika ia harus terjatuh saat berlari larian, dia manis sekali saat itu.
Aku tumbuh sebagai gadis pelindungnya, sebagai kakak, sebagai teman, sebagai tetangga, entah sejak kapan perasaan itu berubah, aku kini mengagguminya sebagai pria, ah sial kadang aku benci pada perasaan semacam ini.

“Prana bodoh”

Dengusku kesal, karena perasaan ini sepertinya hanya berasal dari satu arah. Hanya dari aku, seorang gadis urakan yang dekat dengannya hanya sebatas tetangga sekaligus kakak perempuan, perilakuku yang cenderung kasar dan jauh dari kata wanita sempurna, masa SMA itu lah masa terakhir ku mengenakan rok, ya aku lebih suka dengan celana panjang dan blue jeans. Tomboy? Bisa jadi, bahkan teman teman di kampus memanggilku gorilla, ya aku gorilla yang tak ada anggun anggunya sama sekali, hanya pada Prana aku bisa luluh, meski terkadang ia tak luput dari tendangan kecil pada tulang keringnya jika aku sudah gemas dengan tingkah polosnya. 

Biasanya ia akan mengaduh dengan alan sedikit pincang, aku puas dengan hal itu lalu terkekeh kekeh. Hanya itu yang bisa aku lakuka untuk mengendalikan perasaanku yang sering meledak ledak jika ada didekatnya. Tak jarang juga lengannya jadi sasaran empuk bogemku, terkadang ia hampir terhuyung, lalu meringis menahan sakit.

Cukup lama aku disini menguntitnya. Menguntit? Ya aku seperti penguntit yang diam diam memperhatikannya dari jarang jauh tapi bisa dibilang tidak juga, karena aku suka berada di tempat ini, bersama ratusan buku buku, ah apa ini penyangkalan? Atau sebatas alasanku saja. Oke oke, baiklah, aku seorang penguntit. Sebal rasanya mengakui kebenaran yang tak bisa aku tolak mentah mentah begitu telak tepat menusuk logikaku. Yeah aku gadis tomboy yang sedang menguntit Adik kecilnya yang kini sudah tumbuh adi pria dewasa yang mempesona.

Tampaknya dia juga sudah menyadari sudah berapa lama ia berkeliling di toko buku ini, senyu manisnya mengembang menatap layar ponsel, dan aku yakin ia sedang memastikan waktu yang ia buang disini, hanya untuk melihat lihat buku buku dengan cover warna warni.
Dahiku seketika mengernyit elihat pemandangan di sudut sana, ia itu Prana yang tampak salah tingkah bersitatap dengan gadis yang manis, kuhentak hentakkan kaki ku pada lantai gedung, sebal rasanya. Siapa gadis itu, begitu cantik dan menawan, baru kali ini aku melihat Prana bereaksi seperti itu. Kupandangi seluruh tubuhku yang tak ada yang aneh, lalu sekejap mataku teralih mengamati gadis itu. Ah iya dia hanya gadis yang kebetula lewat, dan tak sengaja bertemu dengan Prana di toko buku ini.

“Tak akan terjadi apa apa”

“Itu hanya ada dalam novel”

“Iya benar, hanya dalam cerita fiksi sinetron”

Berbagai penyangkalan terhadap imajinasiku yang terlampau tinggi. Berkali kali aku mengusap mataku, mengernyitkan dahi, seolah tak yakin dengan apa yang barusan aku lihat. Prana memanggil gadis itu, dan seperti yang aku duga mereka berjabat tangan berkenalan, aku tak ingin melihat lebih lama, ya aku benar benar cemburu, dan benar benar sadar bahawa Prana kini bukan lagi bocah mungil, ia adalah pria dewasa yang kini aku kagumi, aku cintai meski itu hanya searah dan sepihak. Karena aku yakin, Prana hanya melihatku tak lebih sebagai kakak perempuan yang menyebalkan. Tak ingin berpikiran yang tidak tidak, aku memilih tenggelam bersama deretan buku lainnya.

Ya Tuhan, lindungi hamba dari rasa murka, remuk redam, ingin buncah pecah tangis, ingin ku cabut renggut hati ini. Nafasku sesak, . Tuhan berapa lamakah aku harus menanggung rasa buruk ini. Aku seketika membenci anugrah terlahir di dunia, aku seketika lupa ada tugas lain yang harus ku jalani. Dan mungkin inilah takdirku, mengamati Prana dan gadis itu keluar bersama dari toko buku. Dan aku masih berdiri saja, di sudut yang tak terlihat. Sebagai seorang penguntit.



Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2