Baju Baru Dan Bocah

Pagi tadi terasa indah, melihat puluhan anak anak ramai ramai pulang dari masjid selepas sholat shubuh. Pagi pertama di bulan ramadhan selalu memberi kesan, semangat, keceriaan, kebersamaan. Seketika menyeret pada kenangan masa kecil, di mana kita juga mengalami hal yang sama, Ramadhan bukan hanya moment ibadah tapi juga kebahagiaan bersama.
Ada kesenangan tersendiri pagi tadi, melihat begitu banyaknya jamaah yang memenuhi masjid untuk sholat. Mungkin akan terlontar saatu pemikiran,
"ah kalo romadhan aja rame gini kenapa nggak dari kemaren kemaren"
Tapi untuk yang satu ini seperti bumerang yang menyabit diri sendiri, dan memang sebelum ramadhan tiba, kita selalu abai, procrastinate, semenit lagi ah, lima menit lagi nanggung masih ngantuk. Entah ini disebut apa nyatanya kita selalu bersemangat ketika hanya ada moment tertentu.
Seperti melihat bocah kecil mendapat mainan baru, begitu bergembira, lekat dekat dan tak ingin dipisahkan. Namun waktu juga yang membuatnya berpisah, semangat menggebu di awal awal yang terforsir secara berlebih kemudian habis sebelum sampai garis finish. Dan realita yang sering kita lihat bahkan dialami sendiri, saat awal ramadhan semangat untuk beribadah semangat untuk beramal, menjaga iman membumbung tinggi, ingin selalu dekat dengan masjid, selalu lekat membaca Al qur'an, tak ubahnya kita saat kecil ketika mama papa memberikan hadiah robot robotan baru, baju baru, boneka berbi baru. Senang, gembira, ceria tak ada yang mampu memisahkan kita bahkan jika perlu menunggu baju baru itu kering di jemuran, sesekali memegangnya hanya untuk memastikan ia siap untuk dipakai kembali. 
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك وعلى طاعتك
Meski begitu, hati yang tulus dan bersih pasti akan selalu berusaha agar semangat ramadhan tak hanya di awal tapi bertahan sampai garis finish, bahkan sampai bertemu ramadhan berikutnya. Apa ini terdengar seperti keluhan? jika iya bahkan sahabat dulu kala pun pernah merasa seperti kita, kuat iman saat disamping nabi, malas dan lesu saat tak ada beliau. Karena sejatinya iman dan hati selalu terbolak balik, kadang naik dan turun. Bertambah seiring ibadah, melemah seiring dosa dan makshiat.  Meski menipis semoga tak lekas habis maka berharaplah agar semangat ini lekat sampai garis finish.

Catatan 2 Ramadhan 1437 H

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2