Kepada Hati Yang Bergemuruh Kecewa, Bersandarlah Pada Yang Maha Kuasa, dan Tenanglah





Aku, kamu, dia, pun mereka pernah punya hasrat yang sama tinggi. Seakan sudah layak memiliki, sepertinya sudah pantas menggenggam sampai mati. Padahal sejatinya tak ada yang benar-benar kita miliki, terlebih jika hanya sebuah angan-angan yang digenggam pun tak bisa. Ketika benar-benar tidak sesuai apa yang kita inginkan, hati ini bergemuruh; melihat, mendengar segala hal yang bertaut serasa langit runtuh. Tentu saja ini wajar, seperti sebuah hukum alam: ada aksi, ada reaksi.

Namun, kekesalan bukan satu-satunya reaksi yang bisa dilakukan saat kita dikecewakan.

Menerimanya dengan lapang dada memang tak mudah. Bohong jika kita tidak memendam sedikit rasa kesal, terlebih jika itu adalah seseorang yang paling kita idam-idamkan, seseorang yang layak untuk diperjuangkan, seseorang yang pantas ditunggu sampai nanti. Cukup lama untuk mempersiapkan, sudah dalam merencanakan, namun apalah daya diserobot orang duluan. Sakit? Pasti. Kecewa? Tentu saja!

Sebab hati ini rapuh, mudah sekali runtuh, sering kali mengeluh.

Dengan begitu, tanpa sadar kita telah mengabaikan seutas tali bernama takdir yang telah mengikat kita dari lahir. Karena kita percaya semua ini tak lepas dari sebuah catatan di langit, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Jika rasa ibarat bermain layang-layang, maka bermainlah untuk kesenangan. Jangan terlalu erat menggenggam, jangan pula dibiarkan bebas tanpa kendali.

Tarik-ulur adalah hukum wajib mengendalikan perasaan yang tengah ditiup angin menggebu.

Apa yang lepas dari genggam tak akan mengganggu langkah untuk tetap maju dan memantaskan diri jika kita sadari bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki. Meruntuhkan keangkuhan bahwa diri ini paling layak mendapatkan dan mendampingi adalah hal yang sangat mendasar sebelum kita berencana dan mengharap. Sebab suatu saat pasti ada gesekan-gesekan benang-benang takdir yang tiba-tiba saja memutus apa yang sudah kita anggap ada dalam genggaman erat tangan. Mengejarnya memang memungkinkan, tapi kita tak pernah mengerti bahasa angin kemana ia akan menjatuhkan layang-layang.

Berharap saja, yang lepas itu jatuh pada tangan yang tepat, sebagai hadiah lelah memanjat kepantasan diri.

Sebab yang menentukan kelayakan bukan kita, maka sandarkan hati yang rapuh ini pada Yang Memiliki Kuasa agar saatnya nanti tidak bersimbah luka saat kecewa. Sedari awal perlu kita pastikan bahwa bukan untuk seseorang kita meningkatkan kepribadian, karena memang menuruti apa yang dimaui manusia tak akan pernah ada puasnya. Untuk itu, berjanjilah pada diri sendiri bahwa apa yang kita usahakan tersandar kokoh pada Tuhan yang tak akan pernah mengecewakan. Dia yang tahu segalanya, Dia pula yang menentukan ke mana dan dengan siapa kita bersanding.

Bukankah kita percaya bahwa Tuhan adalah "penulis skenario" terbaik yang pernah ada?

Bersabarlah, apa yang kita usahakan pasti akan membawa hasil yang sesuai. Balasan itu akan tetap setia pada kesetaraan perbuatan. Benar-benar tak ada yang sia-sia bila dikerjakan bersandar pada keridaan Tuhan. Pahit yang kita rasakan saat ini mungkin sebuah hukuman dari Tuhan atas keangkuhan kita, ketamakan hasrat yang ingin memiliki. Memang ini wajar di mata kita sebagai manusia, namun Tuhan Maha Cemburu. Nikmatilah rasa sakit atas kekecewaan ini sebagai pelajaran bahwa kita pernah mengecewakan Tuhan dengan hasrat tinggi yang ada dalam hati.

Mohon bersabar, ini ujian, tahan emosi, tahan emosi, memang mengecewakan.

Namun bersyukurlah, karena dengan itu bisa menjadi obat penenang yang mampu mengingatkan kita akan nikmat-nikmat lain yang pernah kita abaikan. Bisa jadi ada seseorang yang dengan khusyuk menyebut kita dalam setiap percakapannya bersama Tuhan agar kita dijaga sampai benar-benar tepat untuk dipersatukan. Akan ada hikmah yang tertabur, berserak, serpih demi serpih di setiap peristiwa. Mungkin saja kekalahan kita atas gesekan-gesekan benang-benang takdir itu karena kita hanya menunggu tanpa benar-benar mengusahakan kemenangan, atau memang kita belum benar-benar siap mengemban beratnya amanah saat dipersatukan. Karena memaksakan diri tidak akan pernah bisa menyatukan dua kepingan puzzle yang terpisah.

Minta ampunlah atas segala keangkuhan yang kita lakukan. Sampai saatnya nanti, melangkahlah perlahan mendekatkan diri dengan Yang Mengatur segala urusan kehidupan.

Semoga Tuhan mempertemukan kita dengan hati yang mampu menenangkan gemuruh di dalam dada.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2