Kesan Pertama : Sebuah Kritik Sosial Dalam Berbahasa


"Frasa "Pelanggar Bahasa" sudah tidak asing lagi di telinga saya di mana dulu tempat saya belajar memang ada "polisi bahasa" yang menjaga ketertiban dalam berbahasa. Meskipun beda konteks. Di Pesantren tempat saya belajar hanya ada dua bahasa yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai komunikasi sehari-hari"

"Jaga Bahasamu"

Dibuka dengan aksi kejar-kejaran antara Polisi Bahasa bernama Siska dengan seorang yang disebut "Pelanggar Bahasa" karena menggunakan bahasa slang dan kasar. Meskipun pada akhirnya bukan Siska yang berhasil menangkap pelanggar bahasa tersebut. Dari kejadian ini, pihak Kepolisian Bahasa menemukan satu fakta bahwa ada sekelompok teroris yang menamai diri mereka sebagai "Peri Bahasa", dengan ditemukannya lambang dari kelompok tersebut di lokasi penangkapan pelanggar bahasa.

Frasa "Pelanggar Bahasa" sudah tidak asing lagi di telinga saya, di mana dulu tempat saya belajar memang ada "polisi bahasa" yang menjaga ketertiban dalam berbahasa. Meskipun beda konteks, di pesantren tempat saya belajar hanya ada dua bahasa yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai komunikasi sehari-hari: Arab dan Inggris.

Dalam komik Peri Bahasa yang bisa dibaca dalam majalah komik bulanan Kosmik Second Orbit tahun 2017 Issue 01, di dalamnya saya menemukan keunikan dan ketegangan untuk menjaga tata bahasa dengan baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia yang sudah ditetapkan.



Dalam universe apik yang dibangun oleh LSS sebagai penulis cerita dan Fachreza Octavio dalam komik ini, dunia sempat mengalami kehancuran yang dipicu oleh Perang Bahasa. Pada hakikatnya, memang bahasa adalah sarana berkomunikasi, namun bisa juga dipergunakan untuk menyerang seseorang. Penulis begitu cerdik membidik penggunaan bahasa yang mampu mengubah pemikiran orang, terlebih sekarang ini di mana orang bebas mengatakan apa pun di jejaring sosial.

Tak jarang kita temui bahasa-bahasa kasar yang kerap "nangkring" dan menyakiti satu sama lain. Sentilan manis ini cukup menohok muda-mudi masa kini yang seakan tidak lagi memperhatikan tata bahasa yang benar. Muncul berbagai macam bahasa-bahasa baru yang hanya dimengerti oleh kawula muda yang sering disebut sebagai bahasa gaul. Tidak hanya menyoroti penggunaan tata bahasa, sepertinya penulis juga ingin mengkritisi tata krama dalam berbahasa yang sudah diabaikan oleh muda-mudi di jejaring sosial. Sungguh sebuah amanat yang tinggi.


"Besar pasak daripada tiang"

Bagian paling unik dalam komik ini adalah penggunaan peribahasa-peribahasa yang ada sebagai salah satu jurus dan senjata dalam menyerang lawan. Jurus-jurus tersebut disebut sebagai sebuah "Karya". Penggambaran peribahasa yang ada cukup menarik, di mana setiap peribahasa akan muncul sebagai sebuah wujud yang bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan.

"Lo mau ngejaga bahasa atau mau menguasai bahasa?"

Sebuah pertanyaan yang cukup menyentil dari pihak kelompok "Peri Bahasa" ini cukup menjadi sebuah dilema. Memang benar menjaga tata krama dalam berbahasa adalah penting adanya, namun di saat itu juga, ketika ambisi ini terlalu dalam, bisa menjadikan kita congkak dan merasa benar sendiri yang akhirnya menjadikan kita ingin menguasai.

Sebab bahasa ada untuk berkomunikasi; selama itu bisa dimengerti lawan bicara, untuk apa memusingkan hal lain? Namun demikian, menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain tetap harus dilakukan meskipun kita dibebaskan untuk mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita. Jadi, bagaimana kamu berbahasa?

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2