Warisan : Merekontruksi Ulang Sebuah Perspektif


Ikutan bikin tulisan biar dianggap lebih bijak dari anak SMA biasa yang tulisannya tidak berbobot sama sekali. Butuh pengakuan bahwa diri ini sudah tua dan layak disebut Dewasa.
Apa yang bisa diwariskan orang tua kepada anaknya?

Harta, Tahta, Agama.
Kenyataannya memang kita tidak pernah bisa memilih akan terlahir di keluarga seperti apa? itu fakta. Takdir yang bukan kehendak kita kendalinya.
Apakah agama bisa diwariskan? jelas bisa saja, untuk apa kita didoktrin sejak piyik. iya, agama memang bisa diwariskan sih, secara tidak langsung, toh kita sudah diwarisi doktrin semenjak piyik agar mengikuti apa yang diyakini orang tua kita, jika saja menolak apa yang diwariskan itu pasti bakal dicap anak durhaka, ga mau diatur, dasar kafir,
Jika memang agama bukan warisan dan kita bisa memilih sekehendak kita mengapalah orang tua mengamuk murka atas apa yang kita pilih yang kebetulan pilihan itu berbeda dengan apa yang sudah dijejalkan pada kita semenjak kecil?
Apa guna pilihan jika tidak boleh memilih? apa guna kebebasan jika harus sama dengan yang diwariskan? aku tidak sedang membicarakan kebenaran, karena kebenaran bagiku adalah perspektif dari hasil apa yang kita baca, lihat, rasakan, dengar. Akan selalu ada perbedaan kebenaran dari sudut pandang berbeda. Sebab yang benar itu adalah keyakinan individu, dan keyakinan bergantung pada masing masing hati. Setiap jiwa memiliki keyakinan berbeda meskipun ada pada satu sudut yang sama. Jika sudah menyoal keyakinan maka kita memasuki ranah abstraksi yang akan menimbulkan berbagaii macam perspektif yang berbeda. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, karena setiap individu mempunyai penerjemahannya tersendiri, terhadap apa yang dialaminya.

Kita memang terlahir fitroh, bersih, putih, lurus. Makan kedua orang tualah yang menjadikan kita berwarna warni, tidak hanya jejalan demi jejalan doktrin agama dari orang tua, tapi juga lingkungan tempat kita hidup memberikan corak yang membuat kita di cap, sebagai beragama A, B , C.tentu saja itu ada dalam kendali kita masing masing masih mau melanjutkan estafet warisan yang diberikan atau mencari hal lain yang kita baca, lihat, rasa, dengar, lalu muncul kesimpulan sebagai sebuah kebenaran yang tumbuh dari keyakinan dan bukti bukti. Tentu saja melepas estafet warisan ini tidaklah mudah, sebab pasti ada pertentangan dari orang orang sekitar kita yang kecewa atas pilihan kita. Lantas apakah pilihan itu jadi paling benar atau malah paling buruk dan salah kaprah?
Jawabannya tentu ada pada keyakinan kita masing masing berdasar apa yang kita lihat, baca, dengar, rasa. Jika yang dtanyakan adalah apa yang saia pilih saat ini sebagai penerus estafet warisan adalah hal yang paling benar? maka menurut keyakinan saya bisa jadi iya. Jika ada yang tidak setuju dengan keyakinan saia maka itu sudah bukan ranah saia untuk mengusik atau memaksakan apa yang saia yakini. Namun jika pun di minta menunjukkan bukti atas keputusan yang saia ambil maka akan saia tunjukkan bukti yang membuat saia yakin. Dan tidak ada pemaksaan kepada siapa pun agar percaya atas bukti yang saia tunjukkan. Sebab bisa jadi pandangan berbeda memabawa sudut perspektif berbeda pula.
Kemudian apakah segala yang ada diluar apa yang saia yakini adalah salah ? bisa iya bisa juga tidak. Iya jika bersandar pada bukti otentik yang saia yakini, tidak menurut pandangan orang lain yang melihat bukti otentik yang saia tunjukkan itu juga bergantung pada apakah seseorang tersebut mampu melihat apa yang saia lihat atau tidak, bisa menyimpulkan keyakinan apa yang saia yakini.Sekali lagi kamu bebas meyakini apa yang kamu yakini, jika pun itu salah menurutt sumber dan bukti otentik yang meyakinkan saia bahwa kamu salah maka itu bukan urusan saia, hanya saja saia akan memperlihatkan bukti itu kepada siapapun yang bertanya, dengan menggaris bawahi bahwa apa yang saia lihat mungkin berbeda dengan apa yang kamu lihat. dan kamu tidak ada paksaan untuk mempercayai apa yang saia percaya. Cukup lihat dan semua terserah kepadamu bagaimana kamu mengolah apa yang kamu, lihat, baca, dengar, rasa untuk kemundian menjadi simpul keyakinan, baik itu seperti apa yang saia percaya maupun sebaliknya.
Oleh :

Ryl , Lulusan SD biasa, yang tidak punya pendidikan tinggi tapi ingin angkat bicara, karena angkat angkat barang itu butuh tenaga ekstra.

Comments

Popular posts from this blog

CUMIVIEW : Alasan Kenapa Ratna Ajeng “WANOJA” Layak Diperjuangkan.

Tentang Menikah, Mengapa Tidak Aku Segerakan.

Quarted : Secret Admirer Part 2